SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Penambang sumur minyak tradisional yang berada di kawasan Lapangan Tawun Gegunung, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengelola sumur tua dengan iuran.
Salah satu penambang mengatakan, kalau selama ini warga mendanai penambangan tradisional dengan biaya mereka sendiri. Mereka juga menolak apabila disebut akan melakukan monopoli pengelolaan sumur tua yang ada di sana.
“Selama ini kita (membiayai penambangan) dengan iuran,†kata salah satu penambang tradisional yang menolak identitasnya disebut.
Meski menolak menyebutkan angka iuran, tetapi penambang yang sudah berumur itu mengatakan, kalau warga menjual harta benda mereka untuk membiayai pengeboran. Termasuk rela menjual ternak, sawah, ataupun benda-benda mereka yang lain.
“Kalau tidak iuran, dari mana kita mendapatkan uang untuk ngebor sumur,†katanya kepada suarabanyuurip.com, di salah satu lokasi yang ada di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban.
Tidak hanya dana, tetapi juga banyak tenaga yang mereka keluarkan. Sebab, sebelumnya mereka harus jauh masuk ke hutan dan berburu untuk menemukan titik lokasi sumur. Menemukan titik ini, mereka hanya mengandalkan cerita dari mulut ke mulut tentang keberadaan sumur tua.
“Berbulan-bulan, kalau sudah ketemu pun sumur itu sudah rata dengan tanah. Membukanya kembali perlu waktu, biaya, dan belum tentu berhasil melakukan pengeboran ulang,†katanya.
Hal inilah yang tampaknya menjadi dasar keinginan kuat mereka untuk bertahan. Mereka mengatakan kalau sumur tersebut dikelola oleh pihak lain di luar masyarakat, mereka meminta untuk selalu dilibatkan dalam pengelolaan selanjutnya.
“Terlibat dalam pengelolaan, bukan sekedar menjadi pekerja dari beberapa pekerjaan yang sifatnya sementara,†tandasnya.
Diketahui, permasalahan pengelolaan sumur tua yang ada di lapangan tersebut terus bergulir. Rencananya, sumur tua yang ada di sana akan dikelolah oleh KSO Pertamina – Tawun Gegunung Energi, dan juga Perusahaan Daerah (PD) Aneka Tambang.(edp) Â