Parmin, Produsen Krecek dari Ngraho

SuaraBanyuurip.com - 

Krecek, camilan khas Bojonegoro memiliki prospek cerah untuk dikembangkan. Usaha itu sekarang ini digeluti warga sekitar proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu.

Terik matahari di sekitar proyek minyak Blok Cepu, terasa menyengat kulit. Sejumlah pekerja lengkap berpakaian safety terlihat sibuk melakukan aktifitasnya di proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 5 Banyuurip. Pun kendaraan proyek tampak lalu lalang di akses road.

Suara alat-alat berat di lokasi proyek yang tengah mengalami puncak aktifitas itu begitu bergemruh. Suaranya seakan ingin menyaingi aktifitas para pekerja dan lalu lalang kendaraan.

Namun hiruk pikuk proyek migas yang di operatori Mobil Cepu Limited (MCL) tak menjadikan Parmin, bergeming. Di rumah sederhana berlantai tanah, tak jauh dari lokasi proyek, Ia tampak sibuk memanaskan krecek (rengginang). Camilan khas Bojonegoro, Jawa Timur, yang terbuat dari beras ketan.

Tangannya begitu cekatan membolak-balikan krecek yang sudah dijejer di sebuah terpal di depan rumahnya. Krecek itu dipanaskan dibawah sengatan matahari.

“Setelah kering baru nanti digoreng,” ujar Parmin kepada suarabanyuurip.com saat menemuinya di rumahnya di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (8/6/2014).  

Sudah empat belas tahun Parmin menekuni usaha krecek itu. Usaha tersebut telah menjadi penopang hidupnya selama ini.  “Dari tahun 2000 saya sudah membuat krecek,” sergah Parmin.

Baca Juga :   Sukijah, Dalang Perempuan Asal Temayang yang Berusia 120 Tahun

Krecek hasil produksi Parmin itu telah merambah pasar tradisional didalam dan luar desa. Seperti di Pasar Dander dan Ngambon dan sejumlah pasar lainnya di Bojonegoro. Parmin sendiri mengaku, lebih senang menyebut hasil produksinya dengan sebutan krecek, bukan rengginang.

“Rengginang itu sebutan dari luar daerah. Karena itu saya tetap menyebutnya krecek sebagai nama khas sebutan warga Ngraho kususnya dan umumnya Bojonegorro,” kata dia, mengungkapkan.

Meski sekadar usaha kecil, Parmin mengaku, membuat krecek banyak rintangan dihadapinya. Mulai dari kerugian, persaingan usaha dan sulitnya untuk mencari pemasaran secara luas. Sedangan, untuk memproses krecek siap dijual membutuhkan waktu selama tiga hari. Yakni, setelah dimasak kemudian dijemur selama minimal tiga hari baru kering.

“Itupun, jika cuaca mendukung. Sebab jika panasnya kurang kreceknya tidak bias mekar bila digoreng,” turur warga yang berdomisili di RT 14, RW 01, Dusun Bringan, Desa Ngraho tersebut.

Untuk membuat krecek bahan baku yang dibutuhkan adalah beras ketan. Dalam satu kilo gram (kg) beras ketan bisa menhgasilkan 60 biji krecek ukuran kecil, dan 10 biji krecek berukuran besar. Satu biji krecek seharga Rp3000 untuk ukuran besar. Sedangkan, satu bungkus berisi 10 biji krecek kecil seharga Rp5000.

“Lumayan pak, bias untuk menyambung hidup keluarga dan untuk kebutuhan sekolah anak,” sambung Nurhayati, istri Parmin.

Baca Juga :   Mencetak Uang dari Gedebok Pisang

Baik Parmin maupun Nurhayati menyadari dalam menjalankan usaha Krecek ini mengalami rugi dan untung. Karena itu, mereka lebih memilih memaksimalkan usahanya pada saat musim kemarau seperti ini.  

“Biasanya, pada saat musim menjelang puasa banyak pesanan karena banyak orang punya hajatan. Untuk bahan 1,5 kwintal beras ketan super, dengan modal Rp1,5 juta bisa mendapatkan keuntungan Rp 4.50.000,” ujar Nurhayati, mengungkapkan.

“Itu belum dipotong biaya transport,” lanjut dia.

Untuk mengembangkan usahanya, Parmin dan Nurhayati saat ini bergabung dengan saudaranya, Samijah, yang memiliki usaha bersertifikat dari Dinas Pertanian dan Kesehatan Bojonegoro pada 2003 silam. Usaha Samijah bernama Mekar Jaya dan Mekar Sari milik Nyariasih.

“Semoga MCL dan dinas terkait di Pemkab Bojonegoro mau membantu mengembangjkan usaha ini sehingga nantinya juga dapat menyerap peluang kerja maupun usaha,” harap Parmin.

Kepala Desa Ngraho, Samat, mendukung atas usaha yang dilakukan warganya tersebut. Oleh karena itu pihaknya akan berupaya membantu untuk menyampaikan baik ke MCL maupun ke Pemkab Bojonegoro agar usaha tersebut dapat berkembang. Baik permodalan, peralatan hingga pemasarannya.

“Sehingga nantinya bias menciptakan peluang kerja bagi warga setelah nanti proyek Banyuurip berakhir,” sambung Samat. (samia sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *