SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan-Kerajinan tenun ikat di Desa Parengan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur menjadi sandaran hidup mayoritas warga setempat.
Di desa Parengan terdapat sekitar 50 pengusaha tenun ikat dari kelas besar, sedang hingga kecil. Dari setiap pengusaha memiliki jumlah karyawan 25 – 100 orang.
“Kerajinan tenun ikat merupakan jenis usaha padat karya. Untuk menghasilkan produk jadi dibutuhkan banyak tenaga,†kata Kepala Desa (Kades) Parengan, Miftahul Huda kepada suarabanyuurip.com, Minggu (8/6/2014).
Selama ini tidak pernah ada warganya yang berurbanisasi bekerja di kota. Mereka lebih memilih bekerja di perusahaan tenun ikat karena penghasilan yang diterima tidak jauh berbeda dengan perusahaan lain di kota-kota besar.
Tenun ikat produksi Desa Parengan sudah menjadi produk unggulanKabupaten Lamongan. Pengerjaannya masih tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATTBM). Berbagai produk yang dihasilkan para perajin diantaranya yaitu kain sarung, busana wanita dan beragam jenis pakaian.
Menurut salah satu pengusaha tenun Ikat, Achmad, untuk pemasaran tenun Ikat telah merambah luar negeri. “Pemasarannya tidak hanya di Indonesia namun telah merambah kepasar Timur Tengah seperti ke Arab Saudi, Irak dan Mesir,“ ujarnya.
Selama ini para pengusaha tenun ikat telah tergabung dalam Kelompok Perajin Tenun Ikat Parengan dalam binaan Dinas Koperasi dan Perindustrian Kabupaten Lamongan.
Dikonfirmasi terpisah, Camat Maduran, Harsono mengatakan, jika tenun ikat Desa Parengan menjadi produk unggulan Kabupaten Lamongan.
“Dalam setiap even pameran di Jawa Timur atau nasional, tenun ikat Lamongan selalu diikut sertakan. Kegiatan pameran secara tidak langsung turut mengangkat kerajinan tenun ikat, “ ujar Harsono. (tok)