Lahan Menyempit Pemkab Gandeng Perhutani

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Industrialisasi minyak dan gas bumi (Migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berdampak pada berkembangnya pembangunan dengan indikasi berdirinya Ruko, hotel, swalayan, restauran, dan sebagainya berdampak pada menyempitnya lahan.

Terlebih banyaknya lahan pertanian yang telah beralih fungsi. Hal ini membuat Pemerintah setempat harus menyikapinya dengan cerdas dan bijaksana. Salah satunya mengambil langkah inisiatif bekerjasama dengan Perhutani.  

“Tidak bisa dipungkiri bahwa kerjasama ini harus dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan di Bojonegoro sekaligus juga menyentuh daerah-daerah yang terisolir yang berada dalam kawasan hutan,” ujar Sekretaris Kabupaten Bojonegoro, Soehadi Moelyono, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (11/6/2014).

Sementara itu, Administratur Perhutani Bojonegoro, Anggar Widiyatmoko, menjelaskan, telah melakukan pertemuan dengan Bupati Suyoto, dan Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perhutani terkait rencana kegiatan-kegiatan yang ada di kawasan hutan di wilayah KPH yang ada di wilayah Bojonegoro.

“Kerjasama akan meliputi beberapa hal diantaranya listrik dan waduk, bahkan infrastruktur jalan yang berada dikawasan perhutani. Selain bidang tersebut, untuk mengantisipasi lahan kritis nantinya akan dibudidayakan tanaman kemiri luasan dilahan yang sangat luas,” imbuhnya.

Baca Juga :   Tingkatkan Penghasilan Perempuan, Disperinakertrans Adakan Pelatihan Handycraft

Terpisah Kepala Bagian Humas dan Protokol, Pemkab Bojonegoro, Hary Kristianto,  mengungkapkan, kerjasama ini untuk pembudidayaan tanaman tepi dan teduhan yang berada dikawasan hutan Perhutani. Ada dua hal poin penting yang akan dilaksanakan, yakni penggunaan kawasan hutan, dan kerjasama pemanfaatan kawasan hutan.

“Penggunaan kawasan hutan diantaranya adalah pinjam pakai dan kerjasama, bahkan jika dimungkinkan terjadinya tukar menukar lahan. Dari kegiatan ini pula akan terbagi dalam beberapa bentuk kegiatan diantaranya adalah pembangunan waduk gongseng yang masuk dalam wilayah KPH Bojonegoro, jaringan listrik desa yang meliputi KPH Padangan dan KPH Bojonegoro,” tandasnya.

Kegiatan lain adalah pengerasan jalan melalui alur di kawasan KPH padangan dan uji coba demplot ternak sapi di kawasan KPH Bojonegoro. Sementara itu untuk kerjasama pemanfaatan kawasan hutan meliputi beberapa bidang kegiatan yakni penanaman buah jambu biji, pembangunan kebun raya (Arboretum) dan penanaman tanaman porang dibawah tegakan kesemuanya berada diwilayah KPH Bojonegoro.

“Kerjasama tidak hanya sebatas itu namun juga kerjasama yang melibatkan BUMD, BUMN dan swasta diantaranya penanaman agroforesty sebagai lumbung pangan dan energy , pengelolaan wana wisata dander, penanaman kemiri sunan dilahan kritis di dikawasan hutan,” pungkasnya.(rien)

Baca Juga :   Berkah Ramadan, Pasar Desa Ringintunggal Ramai Pengunjung

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *