SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro- Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial (Disnakertransos) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mencatat sebanyak 2.500 tenaga kerja (Naker) proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, menjadi pengangguran dikarenakan kontrak kerja mereka telah berakhir pada Mei lalu.
Jumlah itu dimungkinkan akan terus bertambah karena aktifitas proyek engineering, procurement and construction (EPC) Banyuurip terus berkurang menjelang selesainya proyek yang berpusat di Kecamatan Gayam itu. Sebelumnya, tercatat ada sekira 7000 lebih tenaga kerja lokal Bojonegoro yang bekerja di proyek Banyuurip.Â
“Kami telah melakukan pendataan ke masing-masing desa ring satu jumlahnya segitu, tapi masih ada perusahaan yang belum memberikan data secara resmi,” kata Kasi Informasi Pasar, Bursa Kerja, dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertransos Bojonegoro, Sugihartono kepada suarabanyuurip.com, Kamis (19/6/2014).
Dia mengungkapkan, untuk menekan jumlah pengangguran akibat berakhirnya kontrak kerja di proyek migas Blok Cepu, Disnakertransos telah memberikan pemberitahuan pelaksanaan job fair atau bursa kerja kepada kepada pemuda desa ring 1 melalui melalui pemerintah desa maupun media.
“Tapi kebanyakan mereka tidak mau, karena lowongan yang tersedia non migas semua,” imbuh Sugihartono.
Dari pengamatannya, para pemuda yang belum mendapatkan pekerjaan pasca berakhirnya kontrak kerja tidak mau bekerja selain migas. Sehingga kondisi itu menjadikan mereka sulit memperoleh pekerjaan.
“Kalau bisa jangan mengandalkan proyek migas di Bojonegoro, karena masih banyak peluang lainnya,” saran dia.
Terpisah, Indro (18), warga Desa Ngantru, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, mengaku kecewa karena tidak ada lowongan di proyek migas. Bahkan, ketika mendatangi job fair di Gedung Serba Guna pada Rabu (18/6/2014) kemarin, ada satu kontraktor migas Blok Cepu membuka lowongan untuk koki.
“Ingin kerja di proyek migas Mbak, karena saya dengar gajinya besar, ” pungkas pemuda yang baru lulus SMA ini.(rien)