SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Masih seringnya turun hujan di musim kemarau membuat petani penggarap lahan tadah hujan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, merasa kebingungan. Karena sebagian besar lahan persawahan mereka sudah dibiarkan tak ditanami.
Namun, karena hujan masih sering turun akhirnya para petani berspekulasi untuk kembali menanami lahan mereka. Karena selama ini mereka hanya bertumpu pada air hujan untuk mengairi persawahannya.
Disisi lain para petani juga mengaku kebingunan jika sudah menanami lahannya tiba-tiba hujan tak lagi turun. Tidak menentunya cuaca itu, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, disebut sebagai Madden Julian Oscillation(MJO).
“Sayang kalau tidak ditanami, kalau misalkan ditanami takut hujannya hanya sebentar,†kata Munib (60), salah satu petani asal Desa Tegalbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Keresahan inipun tampaknya hampir dirasakan semua petani yang selama ini menggarap lahan tegalan.
“Kalau hitungan orang selama ini kan sudah seharusnya ketigo (musim kemarau),†sambung Sodik (50), petani lain di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding.
Namun demikian, ada beberapa petani yang masih nekat menabur benih di ladangnya. Salah satunya adalah Kasimo (55), warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Tuban.
“Nekat saja ditabur dengan benih jagung, kalau jagungya gagal panen minimal rumputnya tetap bisa tumbuh dan untuk pakan ternak,†ujar pria ini sembari menanam benih jagung.
Sebelumnya, Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiyono, memperkirakan hujan di musim kemarau akibat adanya dampak MJO ini akan berlangsung hingga Oktober 2014 mendatang. Dimana bulan ini merupkan puncak dari musim kemarau.(edp)