SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Setelah dihantam kelangkaan pupuk, kini para petani di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dihadapkan dengan kenyataan pahit karena mahalnya obat dan alat pertanian. Sementara saat ini tanaman padi dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan perawatan ekstra berupa pengobatan dan pupuk.
“Saat padi butuh diobati, harga-harga obat pada naik semua. Para petani jadi pada bingung,“ kata Subakir, petani asal Desa Trosono, Kecamatan Sekaran, Lamongan kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (19/6/2014).
Menurutnya, saat datang ke toko pertanian harga obat naik 20 persen. Harga obat wereng yang sebelumnya Rp120 ribu naik menjadi Rp145 ribu.
Melihat tingginya harga obat pertanian menjadikan petani memilih membiarkan tanamannya diobati semampunnya.
Seperti diungkapkan petani di Desa Sidogembul, Kecamatan Sukodadi, Supri. “Seharusnya untuk mengobati padi saya butuh dua kaleng obat hama. Tapi karena tidak kuat beli, terpaksa hanya menggunakan satu kaleng, “ cetusnya.
Supri hanya pasrah jika hasil panenannya nanti puso. Tanaman padinya sendiri saat ini berusia 1,5 bulan.
Beberapa pemilik toko pertanian dikonfirmasi SuaraBanyuurip.com membenarkan jika harga obat, bibit, dan peralatan pertanian naik semua. Kenaikannya berkisar 15 persen-20 persen.
“Semua barang harganya naik, Mas,“ ujar Basar, pemilik toko pertanian di Pucuk.
Dia jelaskan, kenaikan paling tinggi pada jenis obat multinasional, dan perkakas pertanian dari bahan stenlis yang mencapai 20 persen. Kenaikan harga tersebut cukup berimbas pada sepinya penjualan. Omzet penjualan turun hingga 30 persen.
Pemilik toko pertanian di Kecamatan Babat, Didik, mengatakan, penyebab naiknya barang-barang pertanian karena akan dinaikkannya tarif listrik. “Imbasnya pada mahalnya barang pertanian, Mas. Karena pabriknya menggunakan listrik,“ ujar Didik. (tok)