Sarankan Proyek J-TB Belajar dari Banyuurip

SuaraBanyuurip.comAthok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro- Problema sosial seperti tenaga kerja di proyek pengembangan unitisasi Lapangan Jambaran – Tiung Biru (JTB), di Kecamatan Ngasem, Tambakrejo, dan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur disarankan harus banyak belajar dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu.

Demikian disampaikan Direktur Utama (Dirut) BUMD Bojonegoro, PT.Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) , Deddy Afidick kepada suarabanyuurip.com belum lama ini. 

“Kuncinya harus belajar dari Banyuurip,” kata dia.

Deddy menjelaskan, persoalan sosial dan kesiapan tenaga kerja lokal harus disiapkan sebelum proyek J-TB dimulai. Oleh karenannya, operator harus mempunyai program khusus agar tenaga kerja lokal dapat dilibatkan. Sebab, hal itu dinilai dapat meminimalisir terjadinya gejolak sosial.

Deddy mengungkapkan, kemoloran produksi puncak di Lapangan Banyuurip, Blok cepu,  juga tidak lepas dari persoalan tersebut. Buktinya, dia mendengar salah satu alasan yang dikemukan operator tidak lain karena persoalan tenaga kerja dan sosial.

“Secara bisinis aspek sosial tidak menguntungkan, namun bisa merugikan secara bisnis,” tambahnya.

Seharusnya, sejak awal operator dan kontraktor rekananannya menyisihkan sekian persen dari total dana investasi.  Suatu misal, dari total investasi Rp.10 triliun disisakan 1-2 persen untuk pelatihan tenaga kerja. Kemudian dana tersebut dipergunakan untuk pelatihan tenaga siap kerja bagi warga lokal.

Baca Juga :   Rekin Gandeng MMP untuk Proyek EPC-5

“Dengan begitu penyerapan tenaga kerja dari lokal lebih siap dilibatkan,” ucapnya.

Kendati begitu semuanya sudah terlambat. Deddy menilai dengan tertundanya produksi puncak Banyuurip, Blok Cepu, nilai kerugian secara bisnis bisa lebih dari 10 persen. 

“Kerugian lebih besar akibat adanya persoalan sosial,” ujar Deddy. (roz) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *