SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro –  Operator migas Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina PetroChina East Java (JOB P-PEJ) berencana melakukan pengembangan Lapangan Sukowati dengan menambah 26 sumur baru di Pad B untuk menjaga produksinya. Namun penambahan pengeboran puluhan sumur baru itu menambah resiko baru bagi masyarakat di sekitar pengeboran karena lokasinya berdekatan dengan rumah sakit internasional di Jalan Veteran yang akan mulai dioperasikan pada akhir 2014 ini.   Â
Rencana pengembangan Sumur Sukowati Pad B di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas itu hanya berjarak sekira 200 meter dari rumah sakit internasional. Sehingga diperlukan skenario untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan yang terjadi.Â
“Kalau terjadi blow out mungkin tidak terlalu berisiko jika lokasi pengeborannya di hutan, lha ini ada di tengah pemukiman,†ujar Asisten Deputy Tata Kelola Kementerian Lingkungan Hidup,  Ari Subianto kepada suarabanyuurip.com usai mengikuti rapat koordinasi Adendum Analisis Dampak Lingkungan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan di ruang Batik Madrim Lantai II kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (26/6/2014) kemarin.
Karena persoalan itu,  perusahaan asal China yang 75 persen lebih sahamnya dikuasai Pertamina itu diminta untuk  segera menyempurnakan kajian Adendum Analisis Dampak Lingkungan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan. Kementerian LH memberikan waktu 30 hari setelah rapat koordinasi kemarin.
Sebab sesuai, lanjut Aris, keterangan yang didapat dari Pemkab Bojonegoro melalui Rumah Sakit Umum Daerah Sososdoro Djatikusumo menyatakan tidak sanggup melakukan evakuasi pasien karena lokasi bangunan berlantai II jika terjadi kondisi darurat.
“Kami minta JOB P-PEJ ada perlakuan khusus pada keberadaan rumah sakit itu. Awalnya hanya sekedar plus sekarang harus plus-plus,†tegasnya.
Selain itu, Ari meminta, JOB-P-PEJ Â lebih memaksimalkan lagi keberadaan Penanggulangan Keadaan Darurat Bencana (PKDB). Meskipun PKDB JOBP-PEJ dinilai lebih bagus dari daerah pengeboran lainnya seperti tertuang dalam dokumen Amdal pada tahun 2004-2007 silam.
“ Pokoknya bagaimana caranya kami ini confident adanya penambahan sumur tidak terjadi blow out atau kondisi darurat lainnya,†tandas Ari.
Sesuai catatan yang diterima Kementerian LH, selama JOBP-PEJ melakukan operasional di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, tidak ada peristiwa darurat yang sampai menimbulkan korban jiwa . Meski demikian, ada beberapa accident yang harus benar-benar diperhatikan JOB P-PEJ.
“Kita lihat operator sebelah seperti MCL yang minim sekali accident, “ pungkas ari.(rien)