SuaraBanyuurip.com – Totok Martini
Lamongan – Nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tampaknya bakal tak bisa ikut menikmati perayakan lebaran tahun 2014 dengan suka cita. Hal ini terjadi karena sejak bulan Juli hingga Agustus—bersamaan puasa Ramadan—memasuki musim sepi ikan.  Â
Dalam medio dua bulan tersebut nelayan tak bisa berbuat banyak. Upaya miyang (menangkap ikan) selalu tak membuahka hasil. Jadinya kampung nelayan di kawasan Kecamatan Paciran, Blimbing, dan Kecamatan Brondong tak ramai oleh hilir mudik penghuninya pulang, dan pergi melaut.
 “Biaya yang dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil tangkapan,“ kata Maksum,  seorang nelayan di Desa Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, kepada SuaraBanyurip.com, Kamis (17/7/2014).
Sebagian besar yang memilih berhenti melaut adalah kapal besar. Biasanya kapal besar yang bisa mengangkut belasan nelayan tersebut mengandalkan hasil tangkapan ikan tongkol. Â
“Nelayan yang menggunakan kapal besar pada libur melaut karena tidak ada tongkol. Tapi nelayan kapal kecil atau perahu masih melaut dengan tangkapan seadanya,“ ungkap Jono, nelayan yang ditemui di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong.
Untuk sekali melaut nelayan yang menggunakan kapal besar minimal membutuhkan bahan bakar solar 30 liter atau setera Rp165 ribu. Itu masih belum bekal makanan yang harus dipersiapkan pemilik kapal besar selama melaut.
Jika hasil tangkapan sepi dipastikan tidak akan mendapatkan hasil dan justru merugi. Karena itu para nelayan memilik untuk libur melaut.
Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya jika musim sepi ikan berlangsung hingga bulan Agustus mendatang. Dalam kondisi demikian, bisa dipastikan ratusan nelayan yang tersebar di pesisir utara Lamongan tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh kemeriahan.
“Alamat ndak bisa nggoreng kopi, Mas. Sekarang saja sudah dua mingguan nganggur, “ keluh Pardi, nelayan lainnya. (tok)