SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Warga Kabupaten Tuban, Jawa Timur memadati lokasi pemakaman usai melaksanakan shalat Idul Fitri.
Pantauan Suarabanyuurip.com, hampir semua lokasi pemakaman umum yang ada di Tuban penuh sesak dengan kehadiran warga. Mereka melakukan tradisi tahunan, yaitu nyekar dan berziarah ke makam leluhur.
“Setiap tahun, usai shalat Ied langsung ke makam orang tua untuk nyekar,” kata Lastri (50), salah satu warga yang di temui di makam Setro, Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Lastri mengungkap, kalau nyekar merupakan rangkaian kedua pada hari pertama Idul Fitri. Sebelumnya, dia mengikuti shalat jamaah di masjid desa setempat dan sungkem dengan anggota keluarga.
“Setelah ini baru pergi dan berkunjung ke famili,” kata perempuan yang saat itu mengenakan kerudung hijau ini menerangkan.
Asep (29), warga lain asal Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, mengisahkan cerita lain. Pria yang kesehariannya bekerja di Surabaya ini sebelumnya juga telah membersihkan makam milik keluarganya sejak hari kemarin.
“Sebelumnya sudah dibersihkan, kita taburi pasir lagi di atasnya biar gundukan makamnya tidak hilang,” katanya menjelaskan.
“Saya sengaja pulang ke Tuban. Selain untuk ketemu keluarga dan famili juga untuk nyekar di makam keluarga,” kata Asep yang saat itu berada di lokasi pemakaman Kyai Deng, Kelurahan Gedongombo, Semanding, Tuban.
Kondisi inipun dimanfaatkan warga untuk mengais rejeki. Tampak di hampir setiap lokasi masuk makam, berderet beberapa orang perempuan yang menjajakan “kembang ijo”. Yaitu bunga yang dipergunakan untuk tradisi nyekar.
“Satu pondoh (satu bungkus) harganya lima ribu mas,” kata salah seorang pedagang bunga kepada Suarabanyuurip.com. (edp)