SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Nelayan yang tinggal di pesisir Kabupaten Tuban, Jawa Timur cukup resah terkait kabar adanya pembatasan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar bersubsidi yang diterapkan pemerintah sejak senin (4/8/2014) hari ini.
Sampai saat ini, mereka mengaku belum mendapatkan informasi mengenai hal tersebut. Kabar pengurangan BBM Solar ini cukup menjadikan mereka ketar-ketir.
Mereka juga mengaku belum tahu, apakah pembatasan solar dibatasi untuk nelayan besar, ataukah diperuntukkan untuk nelayan kecil.
“Kalau ada pembatasan Solar bersubsidi jelas nelayan akan terkena imbas,†jelas Juwarsono (52), salah satu nelayan asal Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Senin (4/8/2014).
“Tidak dibatasi saja kita (nelayan) sering tidak kebagian Solar. Bagaimana kalau ada pembatasan?†alasan Juwarsono menjelaskan keresahannya.
Hal ini dikarenakan keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) masih terbatas di Kabupaten Tuban. Yaitu ada di pantai Kecamatan Palang, Jenu, dan Kecamatan Bancar. Sementara untuk wilayah kota, nelayan masih menggantungkan solar subsidi dengan ikut mengantri di SPBU biasa.
“Mendapat solarnya dengan ikut antri di SPBU biasa, tidak ada yang khusus nelayan,†jelasnya.
Dalam satu hari, rata-rata nelayan kecil di Tuban membutuhkan Solar sebanyak 10 sampai 20 liter untuk sekali melaut. Apabila tidak menggunakan Solar subsidi mereka harus mengeluarkan kocek yang lebih dalam. Yaitu antara Rp114.000 sampai Rp228.000 untuk sekali melaut, karena harga solar nonsubsidi saat ini Rp11.400 per liter.
“Kalau dengan solar subsidi (Rp5.500 per liter), biaya yang diperlukan sekitar 55 sampai 110 ribu rupiah satu kali melaut,†terangnya.(edp)