SuaraBanyuurip.com –Â Ahmad Sampurno
Blora – Meskipun masuk dalam daerah penghasil Minyak dan Gas Bumi (Migas) namun tidak membuat Kabupaten Blora, Jawa Tengah terlepas dari predikat daerah miskin. Dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah, Blora menduduki peringkat ke 15 daerah termiskin.
“Itu fakta, kita masuk garis merah kemiskinan di Jawa Tenggah,” ungkap Siswanto, Anggota komisi A DPRD Blora.
Menurutnya, Pemerintah harus mengupayakan langkah sistematis dan terstruktur untuk menurunkan angka kemiskinan melalui cara-cara lain, di luar sumber daya hutan dan Migas.
Meskipun Blora memiliki hutan dan Migas melimpah, namun dikuasai Negara. Sehingga hasilnya pun masuk pemerintah pusat.
Menurutnya, pemasukan dari hutan Blora, setiap tahun hanya Rp 4 Miliar sedangkan dari migas tahun kemarin hanya mendapat Rp 8 Miliar.
“Itupun dana bagi hasil (DBH) Migas Blok Cepu masih 0,” jelanya.
Selain bergantung pada pendapatan tersebut, pemerintah harus mulai berfikir kreatif untuk mempermudah perizinan agar perusahaan luar masuk ke Blora. Dia berpendapat, pemerintah harus beranai menarget 50 perusahaan berdiri di Blora pada 2017 mendatang.
Dirinya beranggapan, jika perusahaan mempekerjakan 300 orang, maka ada 15.000 tenaga kerja Blora yang terserap. “Kita harus buat zona kawasan industri di Blora, agar pengusaha masuk ke Blora,” ungkapnya.
Dia menambahkan, dari jumlah penduduk Blora versi BPS yang mencapai 961 ribu penduduk, 115 ribu atau 13,5 persennya merupakan masyarakat miskin.
Dengan adanya kawasan industri, lanjutnya, itu bisa menurunkan tingkat kemiskinan. Menurut Siswanto, jenis usaha yang cocok di Blora  sangat banyak. Mulai pabrik konveksi, kecap, pakan ternak, alas kaki atau bahkan pabrik sepatu sandal.
Hal ini diakui pula oleh Wakil Bupati Blora, Arief Rohman, bahwa Blora menduduki peringkat ke 15 kemiskinan. Untuk mencarai akar permasalahan, pihaknya mengakau, saat ini telah mengumpulkan tim dan petugas kecamatan untuk memetakan satu desa yang paling miskin untuk diintervensi dan diurai permasalahannya.
Dari desa terpilih tersebut, pihaknya akan meminta Camat setempat untuk mengumpulkan masalah yang menghambat kemajuan wilayahnya. Sehingga, setelah mengetahui permasalahan bisa langsung dicarikan solusinya.
“Saya minta Camat untuk mengumpulkan masalah, nanti biar kami bedah dan carikan solusi,” pungkasnya. (Ams)