SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Warga desa terdampak proyek pengembangan unitisasi Lapangan Jambaran- Tiung Biru (JTB) berharap agar pada penyerapan tenaga kerja lokal nantinya tidak serta merta mengutamakan syarat pendidikan formal atau berdasarkan ijazah.
“Kalau begitu caranya warga sini kalah dengan pendatang yang sudah memiliki kesiapan,” kata Suniti, salah satu warga Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro saat ditemui suarabanyuurip.com, Senin (11/8/2014).
Menurut perempuan yang lahannya akan ikut terbebaskan ini, sebagian besar pemuda setempat hanya sebatas lulusan sekolah tingkat pertama (SMP). Namun begitu, tak sedikit yang telah memiliki pengalaman kerja walaupun tidak di dalam sektor industri migas.
“Apapun pengalamanya menurut saya itu penting, kebanyakan mereka pernah kerja merantau, ada juga yang bisa mengelas,” ujar Suniti, menerangkan.
Dia berharap, pengalaman kerja dan keterbatasan ijasah tak menjadi hambatan agar warga lokal bisa terlibat didalam proyek migas.
Sementara itu, dalam keteranganya beberapa waktu lalu, Direktur Utama Pertamina EP Cepu, Amril Thaib Mandailing menuturkan jika pihaknya belum bisa mendata perkiraan tenaga kerja yang dibutuhkan. alasanya masih menunggu penentuan kontraktor Engineering Procurement and Constructions (EPC). Kendati demikian, pihaknya berupaya akan tetap melibatkan warga lokal. (roz)