SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Molornya produksi puncak minyak Banyuurip, Blok Cepu, sebanyak 165 ribu barel per hari (bph) dikarenakan masalah teknis. Akibatnya, produksi puncak yang dijadwalkan pada akhir 2014 ini, terancam tak terealisasi karena proyek konstruksi pembangunan fasilitas pemrosesan minyak belum rampung.
Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, mengaku, telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta operator migas Blok Cepu, Mobil Cepu Limited (MCL) untuk membahas masalah tekhnis yang menghambat.
“Karena selama ini yang terjadi adalah masalah tekhnis saja,†kata Suyoto kepada suarabanyuurip.com, Senin (11/8/2014).
Sesuai laporan yang disampaikan SKK Migas dan operator, lanjut Suyoto, masalah tekhnis di Blok cepu adalah perihal cuaca. Sementara masalah non tekhnis seperti sosial dan  perijinan dapat diatasi.
“Sehingga masalah tekhnis tersebut menjadi konsen sekarang ini,†ujar Suyoto.
Ia berharap tak ada kemunduran puncak produksi lagi karena produksi minyak Banyuurip merupakan salah satu penentu target Indonesia mendapatkan satu juta barrel untuk memenuhi kebutuhan energy dalam negeri.
“Jika tak terlaksana juga menunda pendapatan. Karena kita bersama SKK Migas, operator, segera melakukan akselerasi,†tandasnya.
Suyoto tidak membantah jika puncak produksi Blok Cepu yang direncanakan pada akhir 2014, mundur menjadi kisaran Juli 2015.
“Tidak usah didesak pun secara otomatis baik operator dan kontraktor akan mengejar pekerjaan sesuai target,†pungkasnya.
Sementara itu, Public and Government Affair Manager MCL, Rexy Mawardijaya, belum memberikan jawaban mengenai kebenaran masalah tertundanya proyek Blok Cepu yang berujung pada mundurnya jadwal puncak produki.(rien)