SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Proyek pembangunan fly over atau jembatan layang di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah memunculkan pencemaran lingkungan. Selain membuat kondisi sekitarnya panas, juga polusi debu dari material proyek yang membuat pengendara atau masyarakat di sekitarnya menjadi tak nyaman.
Untuk mengurangi dampak lingkungan akibat proyek penunjang Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cahaya Alam Hijau, menyarankan agar ada ruang terbuka hijau (RTH) di sepanjang fly over untuk memberikan suasana segar, meskipun bangunan itu terkesan modern.
“Banyak lokasi strategis di sepanjang fly over yang bisa ditanami pohon, termasuk sekitar kolong jembatan,†kata Ketua CAH Bojonegoro, Turmudzi kepada suarabanyuurip, Selasa (12/8/2014).
Menurut dia, penambahan RTH di sekitar fly over itu perlu dilakukan operator  karena ketika jembatan dioperasikan, akan banyak kendaraan operasional proyek migas yang keluar masuk. Kondisi itu tentu akan diikuti meningkatnya asap dari knalpot kendaraan yang bisa mengganggu pernafasan.
Turmudzi berharap, dengan adanya fly over tidak hanya untuk kepentingan negara, juga memberikan segi manfaat bagi masyarakat Bojonegoro terutama di sekitar area.
“Dengan sistem ruang hijau yang diterapkan itu nantinya bisa menjadi percontohan yang baik untuk proyek lainnya di Bojonegoro,†saran dia.
Terpisah, Public and Government Affair Manager MCL, Rexy Mawardijaya, belum memberikan komentarnya mengenai hal itu.
Untuk diketahui, pembangunan jembatan layang ini dikerjakan oleh kontraktor engineering, procurement and cosntruction (EPC) – 5 Banyuurip, Blok Cepu, Konsorsium PT. Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya (HK). Jembatan layang itu nantinya akan dijadikan sebagai pintu masuk dan keluar kendaraan proyek migas Blok Cepu.(rien)