SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Blora, Jawa Tengah, mempertanyakan nilai setoran  Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Blora Patra Energi (BPE) ke daerah. Organisasi mahasiswa ini menilai setoran PAD yang diberikan BPE tidak sebanding dengan sumur tua yang dikelolanya.
Ketua PMII Blora, Ngatono, mengatakan, bahwa dengan banyaknya sumur yang dikelola oleh PT BPE, tapi PAD yang disetorkan hanya Rp178 Juta. “Fakta di lapangan hasilnya sangat luar biasa, tapi kenapa ini sangat kecil?†katanya, saat melakukan audiensi dengan jajaran pimpinan DPRD Blora yang baru, Rabu (27/8/2014).
Pihaknya sangat menyayangkan dengan kondisi itu. Apalagi modal yang dikeluarkan juga cukup besar untuk pengelolaan sumur tua.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Blora terpilih, Bambang Susilo, mengakui, jika PAD dari BPE sangat kecil. Untuk itu pihaknya akan melakukan evaluasi dan kajian. “Kami nanti akan mencoba melakukan evaluasi dan mengkaji, kenapa setoran PAD dari BPE sangat kecil,†katanya.
Sementara itu, Direktur PT BPE Blora, Christian Prasetya, mengakui, jika PAD yang disetorkan hanya Rp178 juta pada tahun 2013. Hal itu sesuai dengan prosentase bagi hasil yang telah di sepakati bersama. Yakni dengan pembagian hasil dari keuntungan bersih, 60 persen untuk pemerintah, dan 40 persen untuk BUMD.
“Kami hanya mendapat 10 persen dari penjualan minyak mentah,†katanya.
Menurut Chris, cenderung meningkat dibandingkan dengan tahun 2012 lalu. Setelah ada perubahan aturan dari Pertamina terkait ongkos angkat angkut, Â yang saat ini adalah Rp4.160,38 perliter. Pada tahun 2012 lalu ongkos angkat angkut minyak hanya Rp2.490,56 perliter.
Dari data yang diperoleh, sumur tua yang dikelola oleh BPE sebanyak 36 titik yang produksi hanya 5 sumur, “Itu pun tidak rutin, dan banyak menemui kendala saat produksi,†jelasnya.(ams)