SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Banyak hal yang berubah dari prosesi Siraman Waranggana, dan seniman Tayub Tuban di Pemandian Bektiharo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Rabu (27/8/2014).
Banyaknya perubahan dlam perhelatan seni tradisi itu, tampaknya membuat acara yang digagas Dinas Perekonomian dan Pariwisata, Kabupaten Tuban ini tidak semenarik dari tahun-tahun sebelumnya.
“Banyak yang berubah dari tahun sebelumnya, jadi malah terkesan kurang serius, dan tidak menarik,†kata Jurnalis Trans 7, Dion Fajar Arianto, di lokasi perhelatan.
Jurnalis yang setiap tahun meliput acara ini mengaku kaget dengan perubahan yang cukup mencolok. Terutama pada kegiatan tahun 2014 ini.
Pada tahun ini, hiburan kesenian sudah berganti dengan adanya musik tongklek denga lagu-lagu Islami. Sementara pada tahun sebelumnya merupakan hiburan lain berupa reog atau Jaran Jenggo.
Tahun-tahun sebelumnya para Waranggana dikirab, dan dibawa masuk ke kawasan pemandian Bektiharjo. Usai menabur bunga di sendang, mereka kemudian melakukan siraman dengan sedikit minum dari sumber mata air sendang serta membasuhnya beberapa kali ke wajah.
Prosesi ini dilakukan karena hari Rabu Pon pada bulan Selo (penanggalan Jawa), merupakan hari sucinya para seniman Tayub.
Tahun ini hal itu tidak dilakukan. Setelah para perempuan pelaku mendapatkan kalungan bunga, dan mendapatkan cipratan dari air bunga melalui media daun pandan dari Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Husein, mereka hanya terlihat melakukan kirab mengelilingi area sendang.
Setelah menabur bunga, mereka hanya turun di area sendang, dan berjalan melintas dengan kaki terkena air. Tanpa ada lagi prosesi meminum, dan membasuh wajah menggunakan sumur yang merupakan sumber utama dari sendang Bektiharjo.Â
Menurut Tasmadi, pengunjung asal Soko, Tuban, kegiatan siraman Waranggana kali ini benar-benar tak ada nilai religiusnya. Harusnya para Sindir (sebutan lain dari Waranggana di Tuban-Red) yang mengikuti acara ini serius, dan bernuansa sakral.Â
“Yang saya lihat tadi mereka pada cengengesan (senyum-senyum) kepada pengunjung pria. Ini membuktikan kalau acara serupa pada tahun-tahun sebelumnya telah berubah total, tak ada nilainya kecuali seperti melihat karnaval Agustusan saja,” kata pria berumur yang sejak tiga tahun terakhir mengikuti kegiatan tersebut. (edp)