GCI Belum Kantongi UKL-UPL

SuaraBanyuurip.comAhmad Sampurno

 Blora – PT Geo Cepu Indonesia (GCI), perusahaan yang digandeng Pertamina dalam Kerja Sama Operasi (KSO), belum mengantongi ijin analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) termasuk upaya kelola dan pengelolaan lingkungan (UKL-UPL) pengelolaan sumur minyak tua di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur.

Ijin UKL-UPL yang disodorkan baru sebatas pembicaran sehingga belum ada kesepakan dan terbentuknya memorandum of understanding (MoU) Pertamina. Namun demikian, dengan dalih melakukan perawatan,  PT GCI secara diam-diam diduga telah mendapatkan hasil produksi. 

“Sudah pernah mengajukan izin UKL-UPL yang dikirim via email, namun belum terjadi kesepakatan. Ada permasalahan administrasi yang belum dirampungkan,” kata Direktur Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM) -Akamigas Cepu, Toegas S Soegiarto.

STEM-Akamigas Cepu, Kabupaten Blora, merupakan perguruan tinggi yang digandeng GCI untuk mengkaji UKL-UPL pengelolaan sumur minyak tua.

Toegas menjelaskan, ijin Amdal dan UKL dan UPL berbeda. Yakni, perizinan Amdal memiliki ruang lingkup lebih besar, sedangakn UPL-UKL bisa meminta rekomendasi dari perguruan setempat.

Baca Juga :   Pertamina EP Aset 4 Pastikan Bukan dari MGS Menggung

“Proyeksi produksi dari PT GCI, hanya perlu mengurus perizinan UKL-UPL,” tegas Toegas. 

Namun begitu, Ia mengaku tidak mengetahui secara jelas apakah PT GCI telah melakukan produksi sumur minyak tua. “Karena draf yang diserahkan PT GCI juga masih dikoreksi,” imbuh dia.

Kepala Unit Pengabdian dan Pelayanan Masyarakat STEM-Akamigas Cepu, Bambang Wardoyo, menambahkan, pihaknya dan PT GCI akan melakukan pembahasan UKL-UPL kembali.

Sementara itu, head of operation support PT GCI, Hery Mutiara,  sebelumny mengaku telah bekerja sama dengan STEM-AKAMIGAS Cepu dalam kajian UKL-UPL. Kontrak itu dilakukan pada Mei lalu dan rencananya kajian lapangan rampung pada bulan September.

“Kontrak izin UKL-UPL telah diserahkan pada bagian KLH STEM-Akamigas dan sudah mendapatkan kesepakatan,” klaim Hery.

Dia menuturkan jika selama ini PT GCI hanya melakukan perawatan, yakni menjaga sumur tua agar tetap berproduksi. “Target yang diberikan Pertamina 1.500 barel per hari, dengan perawatan mampu meningkatkan produksi migas melebihi target tersebut,”  imbuh Hery.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Pertamina EP Cepu Tak Gunakan Istilah Desa Ring 1 dan 2 di Lapangan Gas JTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *