SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Harga sayuran di Kabupaten Blora, Jawa Tengah mengalami kenaikan menyusul datangnya musim kemarau seperti saat ini. Itu terjadi lantaran tidak banyak petani yang menanam sayuran, karena kekurangan air irigasi lahan pertaniannya.
Kenaikan harga dirasakan para pedagang, dan pembeli di Pasar Induk Blora. Harga sayur mayur mengalami kenaikan sejak beberapa minggu lalu. “Panas terik mulai jarang yang menanam, jadinya harganya mahal,†kata salah seorang pedagang sayuran di pasar induk Blora, Sartini.
Harga seikat bayam semula Rp750 naik menjadi Rp1.500, kemudian kacang panjang yang semula per ikat Rp1.000 menjadi Rp2.000. Demikian pula sawi, semula seperempat kilogram Rp1.500 menjadi Rp2.500. Kenaikan rata-rata Rp1.000. Â Â Â
“Kalau wortel, kol, brokoli itu biasanya dipasok dari luar daerah. Harganya juga mengikuti naik. Misalnya wortel  semula per kilogram Rp8.000 naik menjadi Rp11 ribu per kilogram,†ujar pedagang sayur lainnya, Maryati, Sabtu (6/9/2014).Â
Kenaikan harga sayuran tersebut harus memaksa ibu rumah tangga harus pandai mengatur keuangannya.  “Kalau sekarang harga cabai murah, masak makan sama cabai terus,†kata Umi, ibu rumah tangga, yang saat itu berbelanja di pasar induk Blora dan mengeluhkan kenaikan harga sayuran.
Sementara itu,  petani tomat di wilayah Desa Kamolan, Kecamatan Blora, mulai membiarkan lahan buah tomatnya karena mengering dan layu akibat panas, dan kekurangan air di musim kemarau. “Ya, tidak begitu khawatir, Mas, soalnya karena bulan lalu sudah panen,†kata salah satu petani Desa Kamolan.
Namun dia mengeluhkan, karena musim kemarau sekarang ini menyulitkannya merawat tanaman di sawah.
Diketahui, sayuran yang biasa ditanam oleh petani di Blora, di antaranya bayam, kacang panjang, kangkung, terung dan ketela pohong yang dimanfaatkan daunnya untuk sayuran. Selain itu juga menanam labu kuning dan timun hijau (krai). Datangnya musim kemarau menyebabkan beberapa jenis tanaman kekurangan air dan layu pada beberapa wilayah yang minim air. (ams)