Di Waduk Pacal Nasib Dipertaruhkan

SIANG demikian terik di kompleks Waduk Pacal. Awan tipis bergumpal merangkak arah barat. Angin sesekali datang membawa debu sekitar waduk di Desa Kadungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur akhir pekan kedua bulan September 2014.      

Hawa panas tiba-tiba menyergap, ketika perempuan paruh baya mengayuh perahu merapat ke tepi waduk. Sesaat kemudian wanita berbaju merah muda melompat dari perahu kayu. Tangan kanannya menenteng tas plastik berjalan ke gubuk dari ranting pepohonan.

Sang perempuan yang belakangan diketahui bermana, Jirah, asal Dusun Tretes, Desa Kedungsumber. Sehari-hari mencari ikan dari waduk, kemduain dijual kepada pengunjung Waduk Pacal.

Seperti transaksi pada hari-hari sebelumnya, wanita berkulit nyawo matang itu cekatan melayani pembeli yang mengerubutinya. Dengan pisau kecil di tangan dia membelah perut ikan, mengeluarkan kotorannya. Tak lama berselang ikan jenis Nila, Bader, Tawes, dan Mujaer berpindah tangan. Uang pun masuk ke kantong Jirah.

“Mengambil ikan di waduk hanya saya lakukan siang hari saja, kalau malam tidak berani, Pak,” kata Jirah saat ditemui SuaraBanyuurip.com di tepian waduk yang dibangun pada jaman pemerintah Kolonial Belanda itu.

Baca Juga :   Mantan Pekerja Proyek Gas JTB Berdayakan Warga Kurang Mampu

Jirah mengibaratkan, pekerjaannya sangat berbahaya. Dia ibaratkan sebagai profesi menjaring rupiah dari pengunjung waduk. Berkah akan makin besar, ketika hari libur.

Ibu dari dua anak ini menjelaskan, sebagai pengambil ikan di Waduk Pacal sudah sejak usia muda. Oleh karena itu tidak kaget meskipun harus terkena panasnya terik matahari.

“Sejak masih perawan saya mengambil ikan dengan perahu yang terbuat dari kayu Jati ini, Pak. Perahu ini juga tinggalan dari orangtua saya,” kata Jirah.

Tempaan kesulitan yang mendera keluarganya, tak membuat Jirah panik, atau bahkan putus asa. Dalam kondisi apapun dia juga tak kaget. Termasuk air waduk yang kian menyusut di saat musim kemarayu datang.

Sambil mengusap keringat yang menetes di wajahnya yang mulai berkeriput di makan usia, Jirah menambahkan, pekerjaannya tak bisa ditentukan hasilnya. Terkadang ramai pengunjung, tapi sepi tangkapan ikan. Terkadang pula tangkapan banyak, pembeli juga banyak. Semuanya juga ditentukan oleh cuaca, dan pengunjung yang datang di Waduk Pacal.

“Kalau pas ramai bisa menjual sampai 50 Kg dalam sehari, tapi kalau sepi seperti ini biasanya hanya sekitar 20 sampai 30 kilo,” papar Jirah.

Baca Juga :   Senyum Merekah Perajin Batik Pratiwi Krajan

Dia dibantu oleh kedua saudaranya, Sujiyem, dan Sumirah. Untuk sekilo ikan ukuran kecil harganya Rp35.000, kalau ukurannya besar Rp40.000 per Kg.

“Hasil bersihnya dalam setiap harinya kurang lebih Rp100.000,” kata Jirah.

Dia akui, selain bertani, menjadi pengambil ikan yang dilakukan juga merupakan salah satu cara untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Dia hitung kurang lebih sudah 30 tahun profesi sebagai pencari ikan dilakoninya.

“Pekerjaan apapun memiliki peranan besar untuk masa depan. Yang terpenting harus dilaluinya dengan kesabaran tidak mudah putus asa,” imbuhnya.

Tak hanya Jirah yang menggantungkan nasib di Waduk Pacal sebagai pencari ikan. Waduk yang berfungsi sebagai fasilitas irigasi lahan pertanian seluas 41 Km persegi ini, menjadi gantungan hidup warga sekitar.

Waduk yang diresmikan pada tahun 1933 itu, di samping untuk irigasi warga dari lima kecamatan di Bojonegoro (Sokosewu, Kapas, Sumberjo, Balen, dan Baurno) ini, juga menjadi tujuan wisata. (samian sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *