SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Banyak petani yang mengeluhkan hasil produksi tanaman mereka menurun pada musim kemarau kali ini. Namun sebagian petani di sekitar ladang migas Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur, justru sebaliknya. Mereka mengaku produksi pertaniannya meningkat.Â
Warga Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Warijan, misalnya. Ia mengaku, produksi pertaniannya justru meningkat pada kemarau kali ini. Alasanya, kebutuhan pengairan dan biaya produksi lebih sedikit ketimbang musim penghujan. Mulai dari penyemprotan maupun pemupukan.
Warijan mengaku untuk mencukupi kebutuhan pengairan menggunakan pompanisasi dari Sungai Bengawan Solo. Â “Kalau musim hujan rata-rata seminggu sekalai dilakukan penyemprotan. Tapi, kalau musim kemarau hanya sebulan sekali,” kata Warijan.
“Selain itu, jika musim penghujan kondisi tanaman seperti padi pertumbuhannya juga tidak maksimal karena sering tergenang air sehingga, batangnya mudah bosok,” lanjut dia, menjelaskan.
Dia mengungkapkan, sejumlah petani yang mendaptkan hasil lebih banyak pada musim kemaru ini adalah di Desa Begadon, Brabowan, Ringintunggal. Â Warijan menuturkan, biaya pertanian saat musim hujan per hektarnya bisa menghabiskan Rp 8 juta lebih dengan hasil produksi sekira 7 kwintal gabah. Sedangan, pada isaat musim kemarau hanya menghabiskan biaya rata-rata sekira Rp5 juta dengan hasil produksi 8 kwintal gabah.
“Untuk lahan pertanian yang ada lebih dari 50 hektar Pak,” imbuh dia.Â
“Hasil dari penjualan padi perbedaannya juga siknifikan. Contohnya, dimusim hujan dapat hasil sekira Rp6 juta. Tapi jika musim kemarau bisa mencapai Rp10 juta per hektarnya,” sambung Narto petani lain.(sam)