SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan produksi minyak siap jual di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami penurunan pada awal tahun 2014 yakni dari 33 juta barel per hari (bph) menjadi 23 juta bph.
Kepala Dinas Perpajakan dan Pungutan SKK Migas Rinto Pudyantoro, mengatakan, dengan adanya penurunan tersebut maka prognosa produksi minyak siap jual secara nasional yang ditetapkan Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan di dalam realisasinya juga bisa mengalami perubahan.
“Bisa naik atau turun tergantung pada faktor teknhis dan non tekhnis,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com di sela-sela memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Bojonegoro di STIE Cendikia, Senin (29/9/2014) kemarin.
Rinto mengatakan, tidak  tercapainya prognosa produksi minyak siap jual ini faktor utamanya karena dalam memproduksi minyak banyak mengalami hambatan teknis maupun non teknis.
“Contohnya dalam penjualan produksi minyak siap jual bisa saja gagal, karena dalam pengiriman dengan kapal laut terhambat ombak besar,” imbuhnya.
Penulis buku A to Z Bisnis Hulu Migas itu menyebutkan, Â prognosa produksi minyak siap jual ditetapkan berdasarkan masukan dari kontraktor migas yang ada di seluruh tanah air. Oleh karena itu, Rinto menyarankan, daerah penghasil harus tahu posisi produksi migas di daerahnya dalam menentukan perolehan dana bagi hasil (DBH) migas dalam APBD, agar tidak terjadi kekeliruan.
“Kalau produksi minyak di suatu daerah belum mencapai puncaknya bisa saja dalam menentukan pendapatan DBH migas lebih besar dari perhitungan produksi minyak siap jual. Tapi kalau sudah mencapai puncaknya harus di bawahnya,” saran dia.(rien)