SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur diikuti mengeringnya lahan pertanian hingga terjadinya gagal panen di wilayah setempat. Kondisi itu mengakibatkan harga pangan merangkak naik.Â
Temuan di lapangan menyebut, harga beras musim kemarau di pasar tradisional Banjarjo mengalami kenaikan. Beras kualitas bagus harganya naik perlahan, semula Rp7.500 per Kg menjadi Rp7.800 per Kg. Kemudian naik lagi menjadi Rp8.000 per Kg, dan terakhir naik menjadi Rp8.500 per Kg.
Begitu pula harga kualitas sedang yang semula Rp7.000 naik menjadi Rp7.200 per Kg, dan terakhir naik menjadi Rp7.500 per Kg. Sedangkan, beras kualitas biasa yang semula harganya Rp6.000 naik menjadi Rp6.500 per Kg.
Seorang pedagang beras, Purwanti (55), mengatakan, harga beras memang terus merangkak naik saat musim kemarau karena lahan sawah yang ditanami padi di wilayah Bojonegoro banyak berkurang. Sedangkan, lahan sawah di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo yang masih bisa ditanami padi banyak yang mengalami gagal panen karena diserang hama wereng.
“Kalau kondisi ini terus berlangsung bisa terjadi paceklik pangan. Sebab, di daerah pedesaan banyak yang tidak sanggup membeli beras lagi melainkan membeli jagung, dan singkong untuk dimakan,†ujarnya, Selasa (1410/2014).
Sementara itu, harga pangan lainnya seperti jagung saat ini sekitar Rp2.800 per Kg, harga kacang hijau Rp10.000 per Kg, dan harga kacang tanah Rp15.500 per Kg.
Selama musim kemarau ini daerah tadah hujan di wilayah Bojonegoro banyak ditanami jagung, dan kacang hijau. Akan tetapi lahan sawah itu bisa ditanami palawija saat awal musim kemarau, dan saat ini sudah tidak bisa ditanami lagi.
Salah satu petani di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Supatri, menyatakan, lahan sawahnya seluas seperempat hektar ditanami jagung. Dia memperoleh hasil panen jagung sebanyak tiga kuintal. Kemudian, jagung yang telah dipipili itu dijual seharga Rp2.500 per Kg.
“Setelah panen jagung lahan sawah dibiarkan bero sampai menunggu datangnya hujan,†ujarnya saat ditemui secara terpisah.
Lahan sawah milik Supatri merupakan lahan sawah tadah hujan. Lahan sawah ini hanya bisa ditanami padi saat musim hujan. Saat musim kemarau seperti saat ini lahan sawah hanya bisa ditanami palawija yang tidak membutuhkan pengairan terlalu banyak. (rien)