Harga Shorgum Terjun Bebas

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan-Petani shorgum di lima Desa di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur menjerit akibat anjloknya harga pada musim panen tahun ini. Jika tahun lalu harga shorgum mencapai Rp2.000 per kilogram, kini tinggal Rp1.400 per kilogram.

Kelima Desa yang setiap tahun memanfaatkan lahan pertaniannya dengan menanam shorgum yaitu Desa Keyongan, Sambangan, Patihan, Kebalandono, dan Kebonagung. Tanaman shorgum dipilih petani karena tidak membutuhkan banyak irigasi dan perawatan. Selain itu harganya juga setara dengan jagung.

Namun panen kali ini petani shorgum harus menanggung kerugian besar akibat jatuhnya harga bahan baku roti itu. “Harga shorgum jeblok mas. Tinggal Rp1.400 per kilo. Petani banyak yang rugi,” ujar petani shorgum asal Desa Kebonagung, Sapari kepada suarabanyuurip.com, Kamis (16/10/2014).

Meski tidak membutuhkan banyak biaya perawatan, Sapari mengaku mengeluarkan banyak biaya untuk membeli bibit dan pemupukan awal. Selain itu saat panenan, ia harus membayar 5 orang tenaga kerja yang membantu memanen shorgum.

“Perorang upahnya Rp30 ribu untuk setengah hari kerja. Itu belum terhitung makan dan rokok,” ujar dia, menerangkan. 

Baca Juga :   Pelimpahan Kasus Solar Subsidi di Tuban Terganjal Pertamina

Namun dengan harga shorgum Rp1400 per kilogram, petani tidak mendapatkan keuntungan. Karena harga itu tak sebanding dengan biaya perawatan yang sudah dikeluarkan. Akibat anjloknya harga ini petani di sana mengaku akan berpikir ulang untuk menanam shorgum lagi tahun depan.

“Kalau dihitung-hitung panen kali ini rugi mas. Bisa untung kalau harga shorgum Rp2000/kg,” sambung petani shorgum asal Desa Sambangan, Sutikno.

Kepala UPT Pertanian dan Perkebunan Kecamatan Babat, Mubaidi, dikonfirmasi terpisah mengatakan, jatuhnya harga shorgum karena tidak ada tengkulak dari daerah Jawa Tengah yang membeli hasil panen petani di Kecamatan Babat.

“Biasanya tengkulak dari Pati dan Demak yang membeli. Tapi tahun ini pada prei. Kabarnya karena stok shorgum masih cukup banyak,” sambung Mubaidi.

Saat ini petani shorgum hanya mengandalkan penjualan pada tengkulak dari Kediri dan Mojokerto, Jawa Timur. Namun harganya relatif rendah. Di sana shorgum digunakan untuk bahan baku pakan ternak dan media tanaman jamur. 

Untuk menyelamatkan nasib petani shorgum di lima desa yang menggarap lahan sekira 523 hektar, Mubaidi sudah berupaya mencari kemitraan dengan beberapa perusahaan yang mengelola shorgum.

Baca Juga :   425 Personel TNI Berlatih Menembak

“Sampai saat ini kami terus mencari perusahaan yang mau menjadi mitra kerja petani shorgum. Dengan begitu harga bisa stabil dan tidak dipermainkan tengkulak,” pungkas Mubaidi. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *