PMII Soroti Kegiatan Hari Jadi Bojonegoro

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Rangkaian acara Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 337 mendapat sorotan aktivis pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Cabang Bojonegoro, Jawa Timur. Mereka menilai kegiatan yang dilaksanakan pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat itu hanya menghambur-hamburkan uang APBD.

Salah satu kegiatan yang menjadi sorotan PMII adalah parade perahu hias dalam Festival Bengawan Bojonegoro yang dilaksanakan pada Kamis (16/10/2014) kemarin, di Sungai Bengawan Solo, mulai Bendung Gerak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu hingga Tepi Bengawan Solo (TBS), utara Pasar Kota Bojonegoro. Kegiatan itu menelan biaya ratusan juta dari APBD dan bahkan merugikan para penambang pemilik jembatan kayu.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bojonegoro, Ahmad Dilli Nasrulalloh, mengatakan, acara parade perahu hias tidak memberikan sisi keuntungan bagi masyarakat. Tapi hanya memberikan kesan kata bagus saja, karena menjadi tontonan yang tidak biasa.

“Tapi kalau airnya surut, justru akan memberikan sisi negatif bagi pemkab selaku pelaksana,” ujar dia.

Sisi negatif tersebut , menurut dia, pemerintah hanya membuka bendungan saat menggelar acara parade perahu, setelah itu ditutup lagi, dan sungai kembali mengering. Keringnya sungai Bengawan Solo inilah yang menghabiskan uang banyak.

Baca Juga :   Sehari 2 Kali Perampokan Gegerkan Tuban

“Harusnya membuat acara itu yang berkesinambungan dengan rakyat, bukan malahmenyusahkan,” tegas Ahmad.

Dia juga menyayangkan pelaksanaan parade perahu hias yang mengorbankan rakyat kecil seperti penambang yang membuat jembatan kayu. akibat kegiatan itu mereka kehilangan pencaharian tanpa mendapat imbalan apa-apa dari bongkar pasang jembatan yang dilakukan.

“Saya melihat, sekarang ini pemerintah sedang banyak uang. Tapi bukan seperti itu caranya, masih banyak infrastruktur yang perlu diperbaiki. Itu jauh lebih penting,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Bupati Suyoto, mengatakan semua itu menjadi evaluasi, tahun depan akan dipilih bulan yang paling pas antara Juni sampai September.

“Semua harus menjadi pembelajaran,” sambung kepala daerah yang sempat akan dipinang presiden terpilih Jokowidodo sebagai menteri di pemerintahan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) itu.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *