Gelar Simulasi Bencana Migas Sukowati

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Tim Penanggulangan Keadaan Darurat dan Bahaya (PKDB) yang dibentuk atas inisiatif operator migas Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ), melakukan simulasi bencana untuk mengantisipasi bencana yang disebabkan kebocoran gas atau bahaya dari kegiatan pengeboran migas baik di Pad A maupun Pad B, Kamis (23/10/2014).

Ketua PKDB yang juga Komandan Kodim 0813, Letkol Inf Sjahrir Rijadi mengatakan, sebanyak 700 personil gabungan dari TNI-POLRI, Dinas Perhubungan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Kesehatan, dan Satpol PP, bersama masyarakat melakukan simulasi agar tahu caranya tanggap bencana. Simulasi  ilaksanakan di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Desa Sambiroto, dan Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro yang diikuti sebanyak 1500 warga.

“Kami mengikutsertakan masyarakat agar mereka memahami bagaimana tanggap bencana jika terjadi bencana,” tegas Sjahrir kepada suarabanyuurip.com.

Dalam simulasi itu,  mekanisme bahaya kebocoran gas di awali dengan pengecekan terlebih dahulu terjadinya kebocoran gas. Apabila memang membahayan warga masing-masing tim dari instansi terkait akan melaksanakan tugasnya masing-masing. Misalnya dari Puskesmas memberikan masker atau obat-obatan, Dinas Perhubungan mengatur kelancaran kendaraan, kalau ada kebakaran maka BPBD mengirimkan kendaraan PMK dan lain sebagainya.

Baca Juga :   Respon Keluhan Warga, Jalan JC ke JE JTB Kembali Akan Disiram

“Masyarakat harus mengerti bagaimana mengevakuasi diri sendiri bahkan keluarga, harus bersikap tenang dan tidak panik,” ujarnya.

Sjahrir menegaskan, hanya mengamankan situasi di luar pengeboran dari JOB P-PEJ atau di lingkungan masyarakat. Tidak ada pos untuk tim PKDB, namun bisa dipastikan seluruh personil akan langsung bertindak jika dibutuhkan.

“Untuk kegiatan tahunan ini dianggarkan oleh JOB P-PEJ, masing-masing warga yang ikut serta simulasi mendapat uang saku Rp 50.000 melalui pemdes,”ujarnya.

Sementara itu, beberapa masyarakat di Desa Ngampel, meragukan keberadaan tim PKDB . Terbukti adanya kecelakaan kerja beberapa waktu lalu di Pad B yang mengakibatkan bau gas menyengat, tidak ada tim PKDB turun ke lapangan dan memeriksa kondisi masyarakat.

“Di kasih obat tapi bukan timnya PKDB, ya dari JOB P-PEJ, itupun minta karena ada yang sesak nafas,”ujar Pamuji, warga setempat.

Dia mengatakan, seandainya terjadi kebocoran gas atau bencana lain dari pengeboran, masyarakat akan panik dan mencari cara untuk menyelamatkan diri masing-masing. 

“Keburu mati Mbak, nunggu tim PKDB datang menyelamatkan, ya langsung morak marik (tunggang langgang) semuanya,” tandasnya.(rien)

Baca Juga :   Tegaskan Harga BBM 1 April 2026 Tak Berubah, Pertalite Masih Rp10.000 per Liter

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *