Tiga Bulan Air PDAM Mampet Dibiarkan

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan-Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Lamongan, Jawa Timur lagi-lagi harus merasakan kekecewaan akibat sering matinya saluran air milik perusahaan pelat merah tersebut. Bahkan di lingkungan perumahan di wilayah setempat air PDAM sudah mampet selama tiga bulan. 

Seperti di wilayah Kecamatan Babat dan Pucuk. Dalam dua minggu terakhir air PDAM setiap hari sering mati. Akibatnya warga kesulitan mendapatkan air bersih.

“Air pamnya sering mati mas. Bahkan sering dua tiga hari mati berturut-turut,” ucap warga Pucuk Solihin.

Akibat sering matinya air PDAM persediaan air bersih sudah habis sehingga warga terpaksa harus mengambil air dengan menimba air di sumur. Padahal di musim kemarau air sumur banyak yang mengering dan keruh.

“Mau nggak mau harus ngangsu (menimba air ) mas untuk mandi dan mencuci,” timpal warga Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Prayitno.

Sementara di Perumahan Made, Lamongan, kondisinya lebih parah lagi. Air PDAM sudah mampet sejak tiga bulan lalu. “Airnya mati terus mas. Padahal setiap bulan harus bayar abonamen. Kalau telat bayarnya juga di denda,” sergah Warga Perumahan Made Kidul RT 1/RW 3, Mbah Tian kepada suarabanyuurip.com, Kamis (23/10/2014).

Baca Juga :   Semburan Air Bercampur Lumpur Kembali Muncul di Bojonegoro

Di lingkungan RW 3 terdapat sekira 210 Kepala Keluarga (KK) dari total penghuni yang tinggal di Perumahan Made yang mencapai 3000 KK. Untuk mendapatkan air bersih guna kebutuhan rumah tangga, warga di perumahan tersebut terpaksa harus membeli air bersih baik dengan jerigen maupun dengan tandon kibikan.

“Per jirigen kapasitas 30 liter harganya Rp2 ribu. Sedang untuk satu kibik kapasitas 1000 liter harganya Rp55 ribu,” cetus warga lainnya Jali.

Untuk masyarakat biasa banyak yang membeli air dengan jerigen. Dalam sehari rata-rata membeli 5-10 jirigen atau Rp 10-20 ribu. Namun tidak sedikit warga perumahan yang membeli dengan kapasitas besar dengan membeli air tandon yang banyak dijual dengan dimuat mobil pick up. Mereka itu adalah para pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan yang banyak tinggal di perumahan tersebut.

Warga mengaku menyayangkan berlarutnya mampetnya air PDAM di tempat mereka. Apalagi Direktur PDAM Muhammad Maksum sebelumnya juga lama tinggal di Perumahan Made.

“Direktur PDAM lama tinggal di Made. Sekarang pindah di kota. Mengapa membiarkan saja melihat warga Made kesulitan air bersih akibat matinya air PDAM?” sesal Mbah Tian.

Baca Juga :   Perizinan Tambang Sarat Potensi Korupsi

Direktur PDAM Lamongan Mumammad Maksum dikonfirmasi suarabanyuurip.com tentang penyebab matinya PDAM hingga berita ini ditulis belum memberikan jawaban. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *