SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Meski diklaim mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat karena mempunyai Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, tetapi Kabupaten Tuban masuk peringkat ke-7 daerah dengan penduduk miskin di Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Hal ini tentu disayangkan, mengingat banyak industri berdiri dan beroperasi di Tuban. Mulai dari pabrik semen (PT Semen Gresik, PT Holcim Indonesia), aktivitas industri Minyak dan Gas Bumi (Migas), dan sejumlah industri yang lain.
“Kita masih masuk Kabupaten miskin nomor tujuh di Jawa Timur, dan menekan angka kemiskinan sulitnya luar biasa,†kata Bupati Tuban, Fathul Huda, Kamis (23/10/2014).
Huda mengatakan, hal ini lantaran pertumbuhan ekonomi yang ada di Tuban yang meningkat belum banyak dinikmati masyarakat kelas bawah. Geliat industri dan pertumbuhan ekonomi masih dirasakan kaum menengah ke atas.
Untuk itu dia meminta kepada semua pihak, termasuk industri yang ada di Tuban memaksimalkan program pemberdayaan masyarakat. Dia tidak menginginkan adanya program yang sifatnya praktis, karena hal itu rawan dimanfaatkan masyarakat kelas menengah ke atas. Bukan masyarakat bawah yang membutuhkannya.
“Jadi masyarakat bawah masih belum dapat sepenuhnya menikmati pertumbuhan ekonomi yang ada di Tuban,†kata Huda.
Sedangkan Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, memperinci permasalahan ini. Dia mengatakan kalau peringkat awal kemiskinan di Tuban bahkan ada di posisi empat besar. Tetapi angka ini sudah menyusut sekitar tiga persen sejak tiga tahun terakhir.
“Kita berusaha sedikit demi sedikit mengentas kemiskinan yang ada di Tuban, dari sekitar satu juta penduduk di Tuban sekarang ada 17 persen penduduk miskin,†kata Noor Nahar.
Dia berdalih, Pemkab Tuban sudah mempunyai program andalan untuk mengatasi hal ini sedikit demi sedikit. Salah satunya adalah program Gerakan Membantu Masyarakat Miskin (Gematumaskin) yang sudah dimulai sejak 2012 lalu. (edp)