SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro -Â Masyarakat Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, batal melakukan unjuk rasa di Lapangan Migas Sukowati Pad B sebagai bentuk aksi protes kepada Operator Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Minggu (2/11/2014).
Pembatalan demo itu karena manajemen JOBP-PEJ menyepakati tuntutan dan menyanggupi penyelesaian semua tuntutan warga dalam waktu dua minggu. Tuntutan itu adalah realisasi program corporate social responsibility (CSR) 2014, tali asih program enam bulan sekali, tali asih tambahan untuk dua rig yang berdiri di Pad B, tali asih tiga bulan sekali senilai Rp50 juta, sembako, sagbuk hijau, dan tenaga kerja.
Kesepakatan baru itu tercapai dalam rapat koordinasi yang dilaknakan Muspika, perwakilan warga, JOBP-PEJ, pemerintah desa di salah satu warung Desa Ngampel di dekat pemboran Pad B Lapangan Sukowati. Dalam pertemuan itu, Camat Kapas, Nanik Lutsiani, juga memberikan jaminan kepada warga untuk meredam aksi mereka.
“Kalau dalam waktu dua minggu mereka belum kasih jawaban, kapan tepatnya realisasi tuntutan ini, saya akan mundur dari posisi camat,” tegas Nanik Lutsiyani, saat melakukan koordinasi dengan warga di warung kopi depan Pad B.
Dia menyatakan, akan mengawal permintaan warga sampai terealisasi. “Besok saya dan perwakilan warga akan menghadap ke JOB P-PEJ langsung di kantornya untuk penegasan secara resmi,” tandas Nanik.
Nanik mengaku kaget program sabuk hijau oleh JOBP-PEJ ada yang menggunakan lahan milik warga di luar Tanah Kas Desa (TKD) yang hingga kini masih proses di pemerintah kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.Â
“Saya baru tahu, ternyata lahan sabuk hijau tidak hanya menggunakan TKD milik desa Karangpacar. Ya kalau memang ada lahan yang sudah dibebaskan langsung saja diurug tanah dan ditanami, penghijauan kan penting,” ujar dia.
Sementara itu, dari hasil koordinasi terungkap jika lambatnya realisasi program CSR karena Kepala Desa Ngampel, Pujiono belum mengajukan proposal kepada manajemet JOB P-PEJ, dengan alasan kesulitan karena banyaknya perubahan usulan dari warga.
“Makanya, kepala desa itu harus guyub sama warganya, jangan jalan sendiri-sendiri,” pesan Nanik.
Dikonfirmasi terpisah, Field Administration Superintendant JOB P-PEJ, Basith Syarwani, menyampaikan Tambahan tali asih dalam bentuk program sedang di proses.
“Insya Allah 2-3 hari sudah bisa direalisasikan,” sambung Basith.
Dia menyatakan, untuk program CSR sudah dibicarakan dengan Kepala Desa Ngampel dan dalam proses. Sedangkan untuk sabuk hijau, lahan pengganti yang diajukan masih belum ada konfirmasi dari Pemda dan Pemda menghendaki JOB untuk mengajukan beberapa alternative lahan pengganti.
“Jadi masih akan di cari lahan pengganti,” pungkasnya.(rien)