Memintal Keharmonisan dengan Masyarakat Pribumi

SuaraBanyuurip.com - 

Pekerja proyek EPC-1 Banyuurip dari luar daerah telah memperoleh pelatihan local wisdom. Mereka pun cepat beradaptasi dengan budaya lokal sehingga menjadi tamu yang baik bagi masyarakat tuan rumah. 

Indra Permana, (25), terlihat seksama mengikuti materi local wisdom (budaya lokal) yang disampaikan Community Affairs PT Tripatra Engineers & Constructors, Budi Karyawan. Matanya tak lepas menatap setiap bagian materi yang ditayangkan di slide. Namun sesekali senyumnya mengembangkan ketika juru bicara Tripatra itu mengeluarkan joke-joke segar di sela-sela materi yang diberikan.

Maklum, pria yang bekerja sebagai engineer di PT Adonara Bakti Bangsa (ABB), salah satu subkontraktor Tripatra Engineers & Constructors, pelaksana proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Banyuurip, Blok Cepu, itu bukanlah pekerja lokal Bojonegoro, Jawa Timur. Ia berasal dari Jakarta dan baru pertama di tempatkan perusahaannya di Bumi Angling Dharma – sebutan lain Bojonegoro. Sehingga kultur (budaya) masyarakat Bojonegoro, khususnya warga di Kecamatan Gayam, tempat berlangsungnya proyek EPC-1 Banyuurip baru dia ketahui dari pelatihan tersebut.

“Baru kali ini saya datang ke sini,” kata dia membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com usai mengikuti pelatihan local wisdom di Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Provinsi Jatim di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.

Ia mengaku, banyak ilmu dan wawasan yang dia peroleh dalam pelatihan local wisdom ini. Mulai dari kondisi geografis kabupaten, kecamatan, desa yang menjadi lokasi proyek, mayoritas pekerjaan warga, kebiasaan, cara bicara, bergaul, adat istiadat yang masih berkembang, hingga mayoritas agama yang dipeluk masyarakat di sana.

“Bagi saya pribadi, pelatihan ini sangat bermanfaat. Karena membantu saya untuk mengetahui budaya masyarakat di sini sebelum berbaur dengan masyarakat,” ujar Indra.

“Selama bekerja di proyek dan ditempatkan di beberapa daerah di Indonesia, baru kali ini saya mendapat pelatihan seperti ini,” lanjut dia, mengungkapkan.

Dengan mengetahui dan memahami kultur masyarakat pribumi akan memudahkan pekerja baru (pendatang) bergaul dengan warga setempat. Dengan bgitu dapat menghindarkan terjadinya gesekan antara pendatang dengan warga pribumi yang biasanya kerap terjadi dalam sebuah pelaksanaan proyek yang melibatkan banyak pekerja dengan barbagi kultur yang berbeda.

Baca Juga :   Ketika Bongkah Batu Tersentuh Andreas

“Dengan bekal ini kita lebih cepat beradaptasi dengan budaya yang ada di sini. Sehingga kehadiran kita bisa diterima dengan baik oleh warga,” kata pria berkacamata itu mengungkapkan.

Bukan hanya para pendatang yang dapat merasakan manfaat dari pelatihan local wisdom ini. Warga pribumi yang terlibat di proyek EPC-1 Banyuurip yang mengikuti pelatihan ini secara perlahan-lahan juga berubah mainsite-nya (pola pikir). Warga yang dulunya tertutup dengan pendatang, sekarang sudah bisa menerima kehadiran mereka.

“Saya jadi sadar bahwa kita adalah mahkluk sosial, mahkluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Artinya, kita tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa peran serta orang lain (pendatang) yang rata-rata memiliki keterampilan lebih,” sambung Direktur General Mahmudy Technindo (GMT), salah satu kontraktor lokal yang terlibat di proyek EPC-1 Banyuurip.  

Bagi warga pribumi, pelatihan ini sangat bagus dan mengena karena para pendatang sebelum bekerja dapat memperoleh informasi tentang kondisi dan kultur masyarakat tuan rumah. Dengan begitu mereka dapat menghargai dan menjaga prilaku maupun cara berkomunikasi yang baik dengan pekerja maupun warga lokal.

“Kita sebagai orang lokal juga menjadi tahu bagaimana cara menjadi tuan rumah yang baik. Sehingga kita sama-sama bisa saling melengkapi. Karena kehadiran pendatang juga memberikan berkah bagi warga di sini,” kata pria yang pernah mencalonkan diri dalam pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Gayam itu.      

Diharapkan dengan adanya proyek Banyuurip yang disertai pekerja dan perusahaan dari luar daerah ini dapat menjadi motivasi warga dan pengusaha lokal untuk lebih mandiri dan siap menyongsong proyek-proyek selanjutnya.

“Sehingga kita bisa sukses menjadi tuan rumah yang baik dan bisa ikut terlibat di dalamnya,” pungkas Mahmudy.

Dalam pelatihan local wisdom para peserta diberikan informasi tentang geografis Kabupaten Bojonegoro, jumlah penduduk, mayoritas pekerjaan warga, desa-desa terdampak proyek, kondisi masyarakat sebelum dan setelah adanya proyek. Selain itu juga budaya masyarakat yang masih berkembang seperti sedekah bumi (manganan), gotong-royong, menghadiri orang meninggal (nglayat), sopan santun dan cara berkomunikasi.

Baca Juga :   Mantan Pekerja Migas Berdayakan Warga Kurang Mampu

“Kekerabatan masyarakat di sini masih sangat tinggi. Jika bisa masuk menjadi keluarga mereka akan merasa nyaman, namun jika sebaliknya akan dimusuhi. Jadi harus menyadari resiko dan manfaatnya,” kata Juru Bicara Tripatra, Budi Karyawan saat memberikan materi.

Saat ini ekspektasi masyarakat lokal terhadap proyek migas ini sangat tinggi. Masyarakat lokal, khususnya pemilik warung makanan beranggapan bahwa gaji para pekerja migas sangat besar. Sehingga tak jarang mereka ingin mendapatkan keuntungan lebih besar dari jasanya jika melayani pembeli yang berseragam proyek migas.

“Nasi pecel yang biasanya seharga Rp5000, tapi kalau yang membeli memakai seragam proyek bisa menjadi Rp10 ribu,” ujar Budi memberikan gambaran.

“Karena itu, saya berpesan kepada para pekerja untuk tidak berpenampilan dan melakukan kegiatan yang mengundang perhatian. Artinya tidak menggunakan seragam proyek setelah bekerja,” saran dia.

Tak kalah pentingnya, adalah tentang bagaimana cara berkomunikasi. Karena cara dan gaya bicara antara pekerja lokal dengan pendatang berbeda sehingga bisa memunculkan salah paham dan ketersinggungan.  

“Alangkah lebih baik setiap kali meminta bantuan selalu diawali dengan kata, tolong. Ini terasa lebih menghargai yang dimintai bantuan,” pesan dia. 

Dari sekira 7000 pekerja di proyek EPC-1 Banyuurip, sebanyak tiga ribu lebih pekerja telah mengikuti pelatihan local wisdom. Diharapkan dengan pelatihan ini, para pekerja dari luar daerah yang terlibat diproyek ini bisa menjadi tamu yang baik. Karena persoalan yang muncul sekarang ini bukan masalah tentang peluang kerja dan usaha, melainkan lebih pada personal masing-masing pekerja.

“Dengan memahami dan mengerti kultur masyarakat tuan rumah akan menciptakan keharmonisan, sehingga pelaksanaan proyek bisa berjalan lancar sesuai harapan bersama,” pungkas putra Malang, Jawa Timur itu.(winarto)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *