SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Sejumlah tukang ojek di sekitar lokasi proyek Banyuurip, Blok Cepu mengaku masih kebingungan untuk menaikan tarif menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Rp2 ribu per liter yang resmi diumumkan pemerintah pada Senin (17/11/2014) malam kemarin.
Ali, salah satu tukang ojek yang setiap harinya mangkal di pertigaan Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengungkapkan, rencana menaikan tarif masih akan dibicarakan dengan sejumlah rekannya.
“Masih mau dirembug dulu,” kata dia kepada Suarabanyuurip.com Selasa (18/11/2014).
Senada juga diungkapkan rekan seprofesinya Aziz. Menurut dia, untuk menaikan tarif jasa ojek diperlukan pembicaraan lebih lanjut. “Disini juga ada ketua paguyubanya,”ujarnya.
Kendati begitu, sejak pengumumaan kenaikan harga BBM oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sejumlah tukang ojek mengaku dilematis. Sebab, jika tarif naik dikhawatirkan pelanggan akan merasa keberatan. Sebaliknya, jika tidak dinaikan sejumlah tukang ojek harus membeli BBM sesuai yang ditetapkan pemerintah.
“Kembali lagi, yang menanggung susah masyarakat bawah,” ucapnya mengeluh.
Biasanya tarif yang dikenakan tergantung jarak tempuh dan seragam antar rekannya. Untuk tarif pertigaan Clangap ke arah Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, mereka biasanya mematok Rp15 ribu hingga Rp.20 ribu.
“Tarifnya ya segitu, Mas.Tergantung jaraknya,”imbuhnya.
Dia merasa kecewa dengan keputusan pemerintahan Jokowi-JK menaikan harga BBM.Apalagi belakangan ini baik Ali maupun Azis mengaku pengasilannya mulai berkurang.(roz)