SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pasca keputusan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Senin (17/11/2014) pukul 00:00 WIB, tak membuat harga jual ditingkat eceran sama. Namun, pedagang bensin eceran di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur justru menjualnya cenderung berbeda dalam satu liternya (botol).
Di wilayah ladang migas Jambaran-Tiung Biru (J-TB), dan lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu, harga BBM jenis premium rata-rata Rp9.000 hingga Rp10.000 per botol (ukuran 1 liter).
Salah satu warga Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, Rawuh, mengatakan, harga BBM disekitar J-TB sudah melonjak sejak harga belum dinaikan secara resmi oleh pemerintah. Hanya saja ada perbedaan penjualan setelah harga BBM bersubsidi ditetapkan naik oleh pemerintah.
“Sejak sebulan lalu harga BBM disini sudah naik. Dari harga semula Rp7.000 menjadi Rp8.500 per botol. Setelah resmi naik tambah ruwet. Ada yang menjual per botolnya Rp9.000 ada juga yang Rp10.000, Pak,” kata Rawuh kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (19/11/2014) seusai mengisi bensin eceran.
Dia katakan, tidak samanya harga yang dilakukan penjual bensin eceran itu karena melihat kondisi pengisian bensin kedalam botol. Semisal, kalau satu botol berisi penuh Rp10.000. Tapi, kalau tidak penuh Rp9.000.
“Saya beli yang sebotol penuh aja, dan semoga hal ini segera ada tindakan dari pemerintah untuk kesamaan. Jadi, tidak sekedar berani menikan harga saja. Kendati, juga berbagai dampak yang dirasakan rakyat segera diatasi,” imbuh warga ring satu TBR dengan berharap.
Senada diungkapkan warga Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Rofiq. Dia mengaku ada kesamaan harga yang berbeda antara pedagang eceran sekitar Proyek Blok Cepu dengan J-TB.
“Sama disini juga seperti harga yang di sekitar J-TB, yaitu ada yang Rp9.000 ada juga yang Rp10.000. Dengan alasan sama juga,” sambung warga ring satu proyek Engineering Procuremen and construktion (EPC)-5, Banyuurip tersebut.
“Kalau mau ya harga segitu, kalau tidak mau ya tidak apa-apa, Pak. Silahkan beli sendiri di POM sana. Pemerintahnya saja juga ruwet dikalangan bawah pastinya juga ikut ruwet sekalian. Terpenting kami tidak memaksa pembeli,” ujar salah satu pedagang bensin eceran di Desa Kuniran, Kecamatan Purwosari yang minta tidak mau disebutkan namanya tersebut. (sam)