Subkon EPC Banyuurip Keluhkan BOP Membengkak

dump truc tertahan

SuaraBanyuurip.comWinarto

Bojonegoro – Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang ditetapkan pemerintah pada Senin (17/11/2014) kemarin, mulai dirasakan kontraktor lokal yang terlibat di proyek engineering, procurement and construction (EPC) Banyuurip, Blok Cepu yang berpusat di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Biaya operasional perjalanan (BOP) yang dikeluarkan kontraktor membengkak hingga 20 persen akibat kenaikan BBM.

Pembengkakan BOP itu kini dirasakan kontraktor lokal yang mengerjakan pekerjaan pengurukan di EPC-1 milik PT Tripatra Engineers & Constructors maupun 5 Banyuurip, oleh PT Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya (HK).

Direktur Utama CV Prima Abadi, Kamidin, mengaku, akibat kenaikan harga BBM ini BOP yang dia keluarkan untuk setiap satu unit dump truk pengangkut material mengalami kenaikan antara Rp50 ribu sampai Rp60 ribu untuk satu kali melakukan perjalanan.

“Itu tergantung jarak tempuh dari pengambilan material yang dilakukan,” kata Kamidin kepada suarabanyuurip.com, Rabu (19/11/2014).

Dia merinci, untuk setiap perjalan pengambilan material dengan jarak 60 kilo meter (KM) tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian solar bagi satu unit kendaraan sebanyak Rp10.000 untuk setiap satu kali jalan. Sedangkan jika jarak 150 Km terdapat tambahan Rp25.000 untuk satu unit kendaraan setiap satu kali jalan.

Baca Juga :   Inilah Sejarah Panjang Lapangan Gas Lengo

“Padahal dalam pengambilan material ini mereka bisa melakukan perjalan dua sampai tiga PP atau pulang pergi. Tergantung jarak tempuhnya,” kata warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam itu.

Dia mengungkapkan, sebelum harga BBM naik, setiap satu unit dump truk pengangkut material membutuhkan biaya untuk membeli solar antara Rp100.000 sampai Rp120.000 sehari. Namun dengan kenaikan harga BBM ini biaya pembelian solar membengkak menjadi Rp150.000 sampai Rp 170.000.

Menurut Kamidin, membengkaknya BOP akibat kenaikan harga BBM ini  dinilai cukup memberatkan kontraktor lokal yang terlibat di proyek EPC Banyuurip. Karena  setiap harinya kendaraan pengangkut material yang beroperasi mencapai ratusan.

“Punya saya saja setiap hari yang beroperasi antara 50 sampai 100 unit. Dari jumlah ini sudah bisa dikakulasi berapa biaya tambahan yang harus saya keluarkan setiap harinya,” ujar Kamidin.

Dia berharap, kepada kontraktor EPC Banyuurip dapat merubah harga pada purchase order (PO) yang sedang dikerjakan subkontraktor. Karena biaya tambahan yang dikeluarkan untuk BOP lumayan besar.

“Kalau jumlah materialnya masih 100 kubik sampai 1000 kubik kita masih bisa terima menggunakan harga lama. Tapi kalau sudah diatas seribu cukup berat juga, karena kontraktor bisa-bisa tekor,” pungkas Kamidin.

Baca Juga :   Tiga Proyek Hilirisasi Migas di Bojonegoro Segera Dimulai

Juru Bicara Tripatra Engineers & Constructors, Budi Karyawan, menegaskan, tidak ada perubahan harga pada PO yang sudah dikerjakan subkontraktornya akibat kenaikkan harga BBM ini. Namun demikian ia enggan memberikan alas an tidak adanya perubahan harga tersebut.(win) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *