SuaraBanyuurip.com – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, belum memiliki kawasan industri seperti Tuban, Nganjuk dan Ngawi. Namun, kabupaten yang dilintasi sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo, ini menjadi magnet investasi hilirisasi migas.
Ada tiga proyek hilirisasi migas yang akan dibangun di Kabupaten Bojonegoro. Yakni bioetanol-metanol, dan dua kilang mini Liquefied Natural Gas (LNG).
Pembangunan pabrik bioetanol-metanol di Kabupaten Bojonegoro rencananya dibangun di kawasan hutan RPH Sawit Desa Bandungrejo. Lahan hutan yang sudah disiapkan totalnya seluas 5.130 hektar (ha). Rinciannya, 130 hektar untuk lokasi pabrik, dan 5.000 hektar digunakan bahan baku pendukung pananaman sorgum.
Pembangunan pabrik bioetanol-metanol di Bojonegoro masuk dalam proyek strategis nasional (PSN). Total investasi dua proyek ini mencapai Rp 22, 8 triliun. Pabrik bioetanol-metanol untuk mengurangi impor BBM.
Pabrik bioetanol-metanol di Bojonegoro akan dioperasikan oleh PT Butonas Petrochemical Indonesia (BPI) atau PT Butonas Petrochemical Energy (BPE). BPI merupakan perusahaan baru yang berdiri pada tahun 2021 lalu, dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Trinusa Resources.
PT BPI telah mendapat alokasi gas dari lapangan Jambaran-Tiung (J-TB) yang di kelola Pertamina EP Cepu. Jumlahnya mencapai 90 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan jangka waktu tujuh tahun terhitung mulai 2028-2035.
Pembangunan pabrik bioetanol-metanol di Bojonegoro sekarang ini masih tahap izin pelepasan kawasan hutan di tingkat Kementerian Kehutanan.
“Kalau itu (sudah) turun, langsung jalan,” tegas Adm Perhutani KPH Bojonegoro, Slamet Juwanto.
Selain pembangunan pabrik bioetanol-metanol, proyek hilirisasi migas yang akan di Bojonegoro adalah dua kilang mini LNG. Pembangunan dua fasilitas pengolahan gas alam cair skala mini itu akan berpusat di Kecamatan Gayam, yakni di Desa Katur dan Sudu.
Kilang mini LNG di Desa Katur akan dibangun oleh PT OTS Internasional (OTSI), anak perusahaan PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI). Proyek strategis ini dijalankan melalui unit usaha OTSI, yaitu PT Hutama Metana Perkasa.
Peletakan batu pertama pembangunan kilang mini LNG di Desa Katur telah dilaksanakan pertengahan Maret 2026. Kilang mini ini akan menempati lahan milik PT Humpuss yang sebelumnya sudah ada. Luasnya 1,6 hektar.
Kilang mini LNG di Desa Katur memiliki kapasitas 5 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day). Suplai gasnya dari jaringan pipa Gresik-Semarang (Gresem) milik Pertamina Gas Negara (PGN). Mini LNG plant ini rencananya akan mendukung pasokan di Jawa Barat hingga Jawa Timur.
“Informasi dari pelaksana proyek yang disampaikan kepada kami, pekerjaan konstruksi kilang mini LNG dimulai paling lambat Juli 2026,” kata Kepala Desa Katur, Sukono.
Sedangkan kilang mini LNG lainnya akan dibangun oleh investor berbeda di Desa Sudu. Pembebasan lahan telah selesai dilakukan. Luasnya 1,7 hektar.
Lokasinya berada di tepi jalan nasional Bojonegoro – Padangan. Sebelah timur jalan layang (fly over) lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu. Dekat dengan fasilitas gas mettering JTB. Kilang mini LNG di Desa Sudu akan memanfatkan gas dari lapangan JTB.
“Harapannya nanti bisa memaksimalkan sumber daya lokal saat konstruksi dimulai dan kilang beroperasi. Baik itu tenaga kerja maupun peluang usaha lainnya,” tegas Kepala Desa Sudu, Abdul Manan.
Selain hilirisasi gas, di Kabupaten Bojonegoro juga telah beroperasi kilang minyak mini PT Tri Wahan Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu. Kilang ini mendapatkan alokasi minyak mentah banyu urip bagian negara (MMBUBN) dari wilayah kerja (WK) Cepu sebanyak 15 ribu barel per hari (bph). Hasil produksi kilang mini untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah.(red)




