Proyek Blok Cepu Ditengarai Gunakan Solar Wonocolo

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC) Banyuurip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ditengarai menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bukan industri. Hal itu diketahui dari warna dan kualitas solar yang digunakan sebagai bahan bakar genset untuk pekerjaan pengelasan di proyek EPC-5 Banyuurip, yang dilaksanakan PT Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya (HK).

Salah satu pemilik usaha genset yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku, akibat penggunaan solar non industri itu mengakibatkan mesin genset miliknya yang disewa untuk proyek EPC-5 Banyuurip sering mengalami kerusakan. Ia menduga, solar yang dipasok untuk kebutuhan proyek minyak Banyuurip berasal dari pengeboran sumur minyak tradisional.

“Masak solar industri ada campurannya plastik dan potongan tongkol jagung, kalau bukan dari sumur Wonocolo gak ada,” kata dia mengungkapkan.

Selain itu, menurut dia, perbedaan lainnya terdapat pada warna dan kualitas solar yang digunakan untuk kebutuhan BBM di proyek EPC-5 Banyuurip. Di mana warna solar yang digunakan untuk bahan bakar genset kecokelatan seperti teh. Disamping itu dari segi fiscositas terasa kasar di tangan seperti minyak tanah.

Baca Juga :   Berharap Dua Pemdes Segera Ajukan Rekomendasi

“Kalu industri warnanya lebih bening, kuning kehijauan. Selain itu ditangan terasa rada licin,” tegas dia.

Akibat penggunaan solar yang diduga non subsidi itu, lanjut dia, mesin genset miliknya kerap mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menjadikan dirinya harus menambah biaya pengeluaran untuk perbaikan genset.

“Setiap tiga hari sekali genset saya pasti rusak. Tapi mau gimana lagi ya terpaksa saya yang memperbaiki karena kontraknya seperti itu,” ujar dia.

Dia menerangkan, dalam kontrak itu dirinya hanya menyewakan genset dan operator. Sedangkan untuk pasokan BBM seperti solar dipenuhi oleh penyewa genset.

Dikonfirmasi terpisah, Construction Manager EPC-5 Banyuurip, Zainal, menegaskan, semua kebutuhan BBM untuk operasional kegiatan di proyek EPC-5 termasuk genset, menggunakan BBM industri. Dalam sehari kebutuhan kebutuhan BBM menghabiskan 10.000 liter yang dipasok melalui suplier dari Pertamina.

“Jadi tidak mungkin kalau mendapatkan bahan bakar minyak dari lainnya selain suplier kami,” tegas Zainal.

Dia mengatakan, semua sub kontraktor yang bergabung di proyek EPC 5 diwajibkan menggunakan BBM industri sesuai kontrak yang tertera. Jika ditemukan ada penyimpangan penggunaan BBM di luar industri, maka subkontraktor akan mendapatkan teguran atau peringatan. Apalagi menggunakan solar sulingan dari sumur tua di Kecamatan Kedewan.

Baca Juga :   Pertamina Corporate University Gandeng PPSDM Migas Adakan Pelatihan Aviasi

“Karena BBM dari wilayah sumur tua ilegal, jadi tidak boleh digunakan,” tandas Zainal. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *