SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Wilayah tangkap ikan nelayan di perairan utara, tepatnya di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, semakin sempit. Hal itu dikarenakan di wilayah setempat terdapat sejumlah fasilitas penampungan minyak mentah sehingga menjadi larangan bagi nelayan.
Pada tahun 2014 ini, para nelayan harus tersingkir kembali dengan keberadaan Kapal Penyimpanan dan Alir Muat Terapung, Floating Storage Offloading (FSO) Gagak Rimang, yang di operatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan sudah mulai bersandar di 23 Kilometer dari bibir pantai Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
“Sekarang wilayah tangkap nelayan Tuban semakin sempit, semakin tersingkir,” kata salah satu tokoh nelayan di Tuban, Faishol, kepada suarabanyuurip.com, Senin (24/11/2014).
Pria yang juga tokoh penting di Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) ini menjelaskan, sebelum adanya FSO penyimpan minyak mentah, nelayan Tuban sudah dipusingkan dengan keberadaan sejumlah proyek raksasa di perairan Tuban.
Dia menyebut, di Kabupaten Tuban sudah ada pelabuhan milik PT Semen Indonesia di Desa Socorejo Kecamatan Jenu. Bahkan tidak jauh dari lokasi tersebut juga ada pelabuhan milik PT Holcim Indonesia yang ada di Desa Glondonggede Kecamatan Tambakboyo.
“Di wilayah situ saja sudah ada dua pelabuhan raksasa milik dua pabrik semen,” kata Kaji Faisol, sapaan akrab para nelayan kepada pria ini.
Di sisi timur, di wilayah tanjung awar-awar, Kecamatan Jenu, lanjut dia, juga ada pelabuhan yang dibangun milik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI) yang juga menjadi lokasi tambatan kapal tangker untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Terminal BBM (TBBM) Tuban milik PT Pertamina. Kemudian masih di kawasan Tanjung Awar-awar, juga menjadi lokasi pelabuhan milik PT Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
“Sekarang ditambah di wilayah Kecamatan Palang ada dua kapal tangker (FSO Gagak Rimang dan FSO Cinta Natomas),” kata Faishol.
Kondisi perairan di Tuban saat ini sangat tidak menguntungkan bagi nelayan. Pasalnya untuk melaut menyambung hidup mereka kebanyakan menggunakan perahu kecil dengan jarak tempuh yang terbatas.
“Mungkin ini tidak berpengaruh bagi nelayan yang menggunakan perahu besar. Tetapi nelayan berperahu besar rata-rata adalah orang dari Lamongan ataupun juga dari kawasan Jawa Tengah yang bisa menempuh jarak jauh,” jelas Faishol.
“Tetapi nelayan Tuban jarang yang punya kapal besar, mereka hanya menangkap ikan menggunakan perahu tertentu dengan jarak terbatas,” tandas Faishol.
Dia berharap pihak-pihak terkait mau memperhatikan masalah ini. Mencarikan solusi atas permasalahan yang berhubungan langsung dengan kondisi perekonomian nelayan kecil.(edp)