SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Ribuan orang di 10 Desa di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur sejak pagi tadi hingga sore hari ini, Selasa (25/11/2014), antri untuk mengambil pembagian dana kompensasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di 4 desa yang ditunjuk.
Kantor Desa Plaosan, Datinawong, Sumurgenuk dan Gendong, terlihat penuh sesak oleh ribuan warga yang mengantri mengambil dana kompensasi BMM. Mereka tidak hanya berasal dari warga desa setempat namun juga dari tetangga desa sebelah.
Saking banyaknya antrian kantor desa terlihat penuh. Sebagian warga yang mengantri memenuhi halaman kantor desa dan jalan raya. Seperti di kantor Desa Plaosan, sejak pagi hingga sore hari antrian panjang terlihat hingga memenuhi sisi jalan raya Babat-Lamongan.
“Meski antrian panjang terjadi, suasana masih dapat dikendalikan. Warga tetap sabar menunggu, “ kata Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Babat Cucuk Subagiyana kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (25/11/2014).
Menurut Cucuk setiap warga mendapatkan dana Rp400 ribu. Pembagian dana dilakukan oleh kantor pos. Sedang pihak Kecamatan hanya selaku monitoring.
Yang terlihat mencolok, saat mengambil dana kompensasi kenaikan BBM dikantor desa tersebut, cukup banyak warga yang datang kekantor desa dengan naik motor atau diantarkan menggunakan motor keluaran terbaru. Puluhan motor beraneka merk yang rata-rata keluaran tahun 2013-2014 itu diparkir tak beraturan dihalaman kantor desa dan ditepi jalan raya desa.
“Tadi diantar anak mas pakai motor. Karena jarak rumah kekantor desa sekitar 1,5 kilometer, “ kata salah satu penerima dana kompensasi kenaikan BBM Warsinah.
Warga Desa Sumurgenuk ini mengaku setiap pembagian dana kompensasi dirinya selalu menerima. “Sejak jaman pak Yudhoyono (Susilo Bambang Yudhoyono-mantan Presiden RI) selalu menerima,“ paparnya lagi.
Uang yang diterima menurutnya akan digunakan untuk jajan cucu-cucunya dan sisanya akan dipegang untuk keperluannya sendiri .
Banyaknya warga penerima dana yang datang menggunakan motor tersebut banyak yang menganggap penerima dana kompensasi kenaikan BBM salah sasaran.warga yang mampu mendapatkan bantuan sedang warga miskin justru tidak mendapatkan bantuan.
Dikonfirmasi tentang hal tersebut Sekcam Babat Hari mengaku tidak tahu. Yang pasti data penerima dana kompensasi kenaikan BBM berasal dari data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) 2011.
“Datanya dari BPS tahun 2011,“ kata Hari singkat.
Sementara beberapa Kades di Kecamatan Babat mengaku dibuat pusing dengan pembagian dana kompensasi BBM tersebut. Mereka banyak dikomplain warga yang tidak menerima dana kompensasi BBM.
“Kades dituduh pilih kasih. Hanya memberi pada keluarga Kades dan perangkat juga para pendukungnya saja, “ kata salah satu Kades yang tidak mau namanya ditulis. (tok)