SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Hujan turun sejak akhir bulan Oktober 2014 lalu membuat sebagian petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur merasa lega. Mereka bisa langsung beraktifitas mengolah sawah maupun ladang yang semula dibiarkan kosong (bero-Red).
Salah satunya adalah petani yang berada di sekitar ladang migas Alas Tua Barat (ATW) di Kecamatan Ngasem, dan lokasi proyek Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Gayam, Bojonegoro.
Disisi lain, dari kelegaan itu petaka yang dipikul petani, yaitu terkait belum adanya kontributor pupuk bersubsidi mengucurkan ke pihak kios resmi ditingkat Kecamatan secara merata. Sehingga, membuat mereka menjadi kelimpungan. Karena, tak bisa melakukan pemupukan terhadap tanaman pertaniannya, seperti jagung dan lain sebagainya, yang telah berusia sekitar 20 hari.
“Usia tanaman jagung saya sudah 20 hari lebih belum saya pupuk, Pak. Karena tidak ada pupuknya dikios resmi yang biasa jualan disini. Padahal, seharusnya sudah mendapatkan pemupukan. Mungkin hasil panen yang tak dapat nanti tidak maksimal,” kata Parijan warga Desa Trenggulunan, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro kepada suarabanyuurip.com, jumat (28/11/2014).
Semoga, pihak pemerintah segera mendropping pupuk yang dibutuhkan petani. Agar, kondisi tanaman yang sudah terlambat pemukukan tersebut tidak semakin bertambah rusak,” imbuhnya mengharapkan.
“Kalau di wilayah Gayam sudah ada, meskipun belum maksimal. Lagi pula, petani disekitar proyek Banyuurip juga belum begitu membutuhkannya. Sebab, baru mulai penanaman, dan sebagainya lagi juga ada yang masih mengolah lahan,” sambung Wajib warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Bojonegoro. (sam)