SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Belum meratanya hujan yang turun, membuat sebagian petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memilih untuk tak memulai menanam. Hal itu utamanya dilakukan petani tadah hujan karena sawah ladang yang mereka garap masih terlalu kering.
Salah satunya adalah lahan tadah hujan di Desa Tasikmadu dan Desa Tegalbang, Kecamatan Palang. Di sini, petani lebih memilih tidak menaburkan benih jagung yang mereka beli sejak hujan turun pertama kali kemarin.
“Hujan sudah turun sejak dua minggu terakhir, tetapi disini memang tidak terlalu deras,†kata Darsiman (56), salah satu petani setempat, Rabu (3/12/2014).
Serupa juga ada terlihat di sebagian lahan tadah hujan di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding. Petani yang ada di lokasi ini hanya sekedar membajak sawah tanpa menebar benih yang mereka siapkan. Biasanya musim seperti ini sangat cocok untuk menanam jagung.
“Takut seperti musim lalu, kita sampai menanam dua kali karena jagung tidak tumbuh maksimal,†sambung Tikno, petani setempat.
Masih enggannya petani mulai menanam karena harga bibit cukup mahal. Untuk harga bibit jagung berkisar Rp45 ribu perkilogram dengan kualitas biasa, dan sekira Rp 65 ribu perkilogram untuk kualitas bagus.
“Satu petak minimal membutuhkan 4 sampai 5 kilogram, belum lagi tenaganya,†lanjut Tikno.
Petani berharap hujan bisa turun dengan deras di wilayah mereka. Apabila hujan turun kembali selama beberapa hari kemudian, mereka baru memutuskan untuk memulai masa tanam.
Sementara di wilayah lain, rata-rata petani sudah mulai mengawali aktivitas menanam sejak 3 minggu terakhir.(edp)