SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Resiko hidup di bantaran Sungai Bengawan Solo sudah disadari warga. Mereka pun tak cemas bila ancaman banjir akibat meluapnya sungai terpanjang di Pulau Jawa itu menenggelamkan desanya.
Begitulah yang dirasakan warga Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Banjir luapan Sungai Bengawan Solo yang acap kali mendera tak lagi menjadi momok menakutkan bagi mereka. Bencana itu selalu menyapa mereka setiap tahun.
Karena desa ini merupakan desa terdekat dengan Sungai Bengawan Solo. Dari pengalaman sebelumnya, Desa Truni merupakan desa terparah di Lamongan yang dilanda banjir akibat luapan Bengawan Solo.
Seperti banjir tahun lalu, ketinggian air di Desa Truni mencapai satu meter setengah. Luapan air Bengawan Solo menenggelamkan rumah-rumah warga, lahan pertanian, jalan dan infrastruktur lainnya. Anak-anak tak dapat sekolah, dan roda perekonomian warga lumpuh total. Tak terhitung besarnya kerugian yang diakibatkan dari amuk Bengawan Solo.
Sekarang ini hujan yang setiap hari turun deras mengguyur wilayah Lamongan telah menjadikan ketinggian air sungai Bengawan Solo semakin meningkat. Jika hujan deras terus turun bukan tak mungkin Bengawan Solo akan meluap. Jika itu terjadi sudah bisa dipastikan Desa Truni akan kembali tenggelam.
Namun demikian, tidak ada kepanikan pada warga Truni. Mereka tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. Bahkan sebagian besar warga masih tetap bercocok tanam.
“Biasa saja mas. Wong setiap tahun juga kebanjiran,” kata salah satu warga Truni, Ratmo kepada suarabanyuurip.com, Kamis (11/12/2014).
Karena sudah menjadi langganan banjir, tidak ada persiapan khusus yang disiapkan warga Truni untuk menghadapi banjir. Mereka baru akan mengungsikan keluarga, ternak dan harta berharga lainnya jika banjir sudah mulai datang.
“Banjir sudah menyatu dalam kehidupan warga Truni mas. Ndak ada yang perlu dicemaskan,“ tegas dia.
Beberapa warga juga masih bercocok tanam padi. Mereka tetap nekat menanam karena hanya itulah yang menjadi satu-satunya sandaran hidup. Apalagi datangnya banjir juga sulit diprediksi.
“Kalau tidak tanam padi mau dikasih makan apa keluarga mas? Kalau nanti keburu banjir datang ya diterima saja,” timpal salah satu petani Truni, Trisno.
Sesuai pengalaman, banjir datang bulan Pebruari dan Maret. Sehingga sisa waktu itu memberikan harapan bagi petani Truni untuk dapat memanen padi sebelum banjir datang.
Data dari Kecamatan Babat, saat ini tiga desa di Kecamatan Babat dalam kondisi siaga tiga. Tiga desa itu adalah Desa Truni, Bedahan, dan Kelurahan Banaran.
“Kita sudah menghimbau kepada kepala desa untuk tetap siaga menghadapi banjir,” tegas Sekretaris Kecamatan Babat, Herry dikonfirmasi terpisah.
Untuk Kelurahan Babat sendiri setiap tahun juga tidak lepas dari banjir. Namun kemungkinan besar tahun ini tidak akan terjadi setelah dilakukan pembangunan saluran air dan peninggian jalan raya di Jalan Gotong Royong.
Kepala Pelaksana Badan Pelaksana Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Suprapto, mengatakan, pihaknya sudah melakukan kesiagaan penuh untuk penanganan banjir yang sewaktu-waktu melanda wilayah Lamongan.
Persiapan yang dilakukan, lanjut Suprapto, yakni menyiapkan berbagai barang untuk penanggulangan banjir seperti bambu, sesek, pasir dan karung. Selain itu juga telah menyiapkan ribuan paket sembako.
“Barang bisa diambil atau didistribusikan kapan saja dibutuhkan,” pungkas Suprapto.(tok)