SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Meski telah memasuki musim penghujan, namun warga di tujuh Desa di Kecamatan Sekaran dan Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih kesulitan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih mereka harus membeli dengan harga Rp 3 ribu per jerigen.
Ke enam desa tersebut adalah Desa Bulutengger, Latek, Bugel, Porodeso, Sungegeneng, semuanya masuk Kecamatan Sekaran. Kemudian Desa Ngayung, Kecamatan Maduran.
Menurut pengakuan warga, sulitnya air bersih di wiliyah mereka dikarenakan air sumur di rumah-rumah warga rasanya asin dan getir.
“Air sumurnya asin dan getir mas. Untuk kebutuhan air minum dan memasak, warga terpaksa harus membeli,” kata salah satu warga Sungegeneng Hariono kepada suarabanyuurip.com, Senin ( 5/1/2015).
Warga biasanya membeli air bersih dari penjual yang biasa berjualan keliling dengan cara dimuat gerobak. Per jerigen dengan kapasitas 15 liter seharga Rp3000. Para penjual air sendiri mengambil air bersih dari mata air di Desa Kembangan, Kecamatan Sekaran.
Dalam sehari rata-rata setiap kepala keluarga (KK) harus membeli air bersih minimal 1 jerigen. Untuk kebutuhan membeli air bersih dalam sebulan mereka harus mengeluarkan dana minimal Rp90 ribu. Pengeluaran ini bisa bertambah hingga tiga kali lipat saat musim kemarau tahun lalu dimana sumur dan sumber air lainnya mengering.
Kepala Desa Porodeso, Gozali, membenarkan selama ini warganya kesulitan mendapatkan air bersih. Dari sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) atau 2000 jiwa warganya setiap hari harus membeli air bersih untuk kebutuhan minum dan memasak.
“Sudah puluhan tahun warga Porodeso kesulitan mendapatkan air bersih. Belum ada perhatian serius dari Pemkab Lamongan untuk mencarikan solusi,” ungkap Gozali.
Padahal jika melihat banyaknya desa yang sulit air bersih sudah seharusnya dibangun jaringan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maupun dari PT Persero Jasa Tirta yang berlokasi di Kecamatan Sekaran.
Camat Sekaran Yaslihan dikonfirmasi suarabanyuurip.com tentang sulitnya air bersih di 6 Desa di wilayahnya hingga berita ini ditulis belum memberikan jawaban.(tok)