SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Aksi blokir jalan masuk lokasi proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu, oleh kontraktor lokal kembali terjadi. Kali ini, pemblokiran jalan dilakukan di selatan kampung tunnel yang masuk wilayah Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur, Jumat (16/1/2015).
Informasi yang diperoleh di lapangan menyebut, pemblokiran jalan masuk menuju lokasi proyek Banyuurip itu dilakukan dua kontraktor lokal yakni CV Jaya Expres dan CV Candra Karisma. Mereka menuntut kontraktor pelaksana proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering Procuremen and Construction/EPC)- 5 Banyuurip, PT Rekayasa Industri – Hutama Karya (Rekind – HK) untuk segera membayar tagihan sejumlah Rp6 milyar lebih,  karena melebihi batas waktu yang sudah dijanjikan. Â
“Saya terpaksa melakukan blokir jalan masuk lokasi proyek ini, Mas. Karena Rekind – HK tidak menepati janji atas tagihan sebesar Rp6 milyar lebih yang hingga saat ini belum dibayar,” kata dirut CV Candra Karisma, Jawadi kepada suarabanyuurip.com, Jumat (16/01/2015).
Dia menjelaskan, rincian total tagihan yang belum terbayar adalah CV Candra Karisma sejumlah Rp2,5 milyar, dan Rp4 milar lebih untuk CV Jaya Expres. Sehingga total keseluruhannya adalah Rp6 milyar lebih.
“Dalam pertemuan beberapa waktu, janjinya sebelum dua bulan dilunasi. Tapi ini sudah dua bulan lebih invoice yang saya ajukan belum juga dibayar,” tegas Jaswadi.
Dirut CV Jaya Expres, Hadi, menegaskan, tidak ada niat untuk menghambat pengerjaan proyek Banyuurip. Namun apa yang dilakukan ini adalah untuk menuntut hak yang belum diberikan. Karena Rekind – HK telah ingkar janji.Â
“Bagi Rekind – HK nilai Rp4 milyar lebih mungkin bukan apa-apa. Tapi bagi saya nilai tersebut sudah luar biasa, Mas. Ya kalau tidak mau diblokir, jangan molor invoicenya. Apa sangaja mau membunuh kontraktor lokal,” sambung Hadi.Â
“Saya sengaja tidak melibatkan orang banyak dalam aksi ini. Cukup dua orang saja, saya dan Dirut CV Candra Karisma, Jaswadi. Dengan menhadangkkan mobil di jalan masuk proyek Banyuurip,” imbuhnya.
Akibat aksi tersebut aktifitas proyek menjadi terhenti. Mobil proyek yang biasa keluar masuk lokasi proyek menjadi sepi. Saat ini pertemuan antara perwakilan dua kontraktor lokal dengan perwakilan EPC-5 Banyuurip masih berlangsung di dalam lokasi proyek.(sam)