Kecelakaan maut yang menimpa rombongan jamaah pengajian Bojonegoro menjadi pukulan berat bagi keluarga korban. Salah satunya Narko, adik Maryadi, korban meninggal.
Empat pria berbusana muslim warna putih-putih lengkap dengan peci turun dari sebuah mobil yang diparkirkan di depan Pendapa Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jum’at (20/2/2014), pukul 22.00 WIB. Mereka kemudian bergegas menuju pendapa kecamatan untuk menemui petugas posko kecelakaan maut jamaah pengajian di ruas tol Jangli, Semarang, Jawa Tengah, Jum’at (20/2/2015) sore tadi.
Keempat orang tersebut adalah keluarga Maryadi (38), warga Dusun Kedungbajul, Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, salah satu korban kecelakaan maut rombongan jamaah pengajian Habib Lutfi, Pekalongan, Jawa Tengah.
“Saya ingin memastikan apakah benar kakak saya meninggal dunia dalam kecelakaan,” kata Narko adik ketiga Maryadi kepada petugas posko.
“Sesuai informasi yang kami terima dari petugas jasa raharja dan rumah sakit di Semarang, memang ada korban meninggal bernama Maryadi,” jawab petugas posko sambil menunjukkan selembar kertas data korban kecelakaan.
Mendapat jawaban itu, Narko terlihat terpukul. Ada guratan kesedihan yang tak dapat dia sembunyikan diraut wajahnya yang legam. Matanya nanar memandang langit-langit pendapa kecamatan.
Sedangkan tiga kerabatnya yang duduk disampingnya mencoba untuk menenangkan sambil menepuk pundak Narko. “Sing sabar lik. Iki ngunu wes suratan sing Gawe Urip,” ucap salah satu kerabatnya.
Dalam kesedihannya, Narko sempat menceritakan kepada suarabanyuurip.com, tentang sebuah firasat sebelum peristiwa tragis terjadi hingga merenggut nyawa kakaknya. Firasat itu diperoleh dari sebuah mimpi pada Kamis (19/2/2015), tengah malam. Yakni setelah Maryadi pamitan berangkat untuk mengikuti pengajian Habib Lutfi, Pekalongan, pada sore hari.
“Dalam mimpi itu saya mendapat emas di sebuah cepuk. Tapi emas itu kemudian direbut keluarga kakak saya,” ujar Narko lirih.
“Setelah mimpi itu perasaan saya menjadi tidak tenang. Saya khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa Kang Maryadi,” lanjut dia.
Ternyata apa yang dikhawatirkan Narko, terjadi. Pada Jum’at malam sekira pukul 20.00 WIB, dia didatangi oleh Sekretaris Desa Sambiroto, yang membawa kabar jika kakaknya mengalami kecelakaan di tol Semarang dan meninggal dunia.
“Kata pak Carik, untuk memastikannya bisa datang ke posko kecalakaan di Kecamatan Dander. Kemudian saya mengajak family datang ke sini dan ternyata benar,” kata Narko.
Dia mengaku, sebenarnya telah melarang kakaknya berangkat mengikuti rombongan pengajian Habib Lutfi ke Pekalongan. Karena pada Jum’at malam di Masjid desanya akan berlangsung peringatan Maulid Nabi.
“Sebab dia juga menjadi salah satu panitia Maulid Nabi. Tapi dia tetap memaksa ingin berangkat,” ujar Narko.
“Baru saja acara Maulid Nabi selesai kami langsung ke sini,” timpal salah satu kerabat Narko lainnya.
Menurut Narko, di mata keluarga, almarhum yang memiliki dua anak itu dikenal sosok yang taat beribadah dan suka mengikuti ziarah maupun rombongan pengajian di luar daerah. Karena setiap ada kegiatan Maryadi selalu tak melewatkan.
“Bukan hanya ini saja. Sebelumnya dia banyak mengikuti rombongan-rombongan ziarah. Bahkan kalau lokasinya dekat, dia nekat akan naik sepeda motor,” pungkas Narko.
Sesuai data yang diperoleh di Posko Kecelakaan Kecamatan Dander, sebanyak 54 orang mengalami luka-luka dan 16 orang meninggal dunia. Dari korban meninggal itu sembilan orang sudah berhasil teridentifikasi. Sedangkan tujuh korban lainnya belum.
Para korban itu berasal dari sejumlah desa di bebarapa kecamatan seperi Kecamatan Ngasem, Dander, Padangan, Balen, Bojonegoro, Temayang, dan Kapas. Bahkan dari Kabupaten Nganjuk.
Ke sembilan korban yang berhasil diidentifikasi adalah Hj. Tutik Sutrasini (55), Hadi Prayitno, (51), Bima Saputra (10), Maryati (50), Sumisih, Nanda (13), dan Syarif Hidayatullah, koordinator rombongan. Semuanya warga Desa Dander.
Kemudian Salfiah, warga Kuncen, Kecamatan Padangan. Sedangkan tujuh orangnya belum bisa teridentifikasi.
Sementara korban luka ringan di RSUP DR Kariadi 17 orang dan 12 orang luka berat, serta 6 orang meninggal dunia. Kemudian di RS Bhayangkara Semarang, luka ringan 21, luka berat 3 orang dan meninggal dunia 10 orang.
Di RS Sultan Agung Semarang luka ringan satu orang, dan RS Elisabeth satu orang luka berat.
“Pemkab akan menanggung semua biaya di rumah sakit dan pengangkutan jenazah sampai rumah duka,” timpal Bupati Bojonegoro, Suyoto yang datang ke posko.
Bagi korban yang sehat akan langsung dipulangkan. Sedangkan yang luka berat akan dirawat di rumah sakit semarang sampai sembuh. Sementara jenazah akan langsung diserahkan kepada masing-masing keluarga.
“Karena korban meninggalnya tidak hanya warga Dander, jadi dari Semarang akan langsung dibawa kerumah duka untuk diserahkan kepada keluarga agar bisa segera dimakamkan,” pungkas Suyoto.(dwi suko nugroho)