SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Turunnya harga semen Rp3000 persak bersamaan dengan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak Senin (19/5/2015) kemarin, ternyata tak berdampak signifikan terhadap penjualan di pasaran.
Di Lamongan, Jawa Timur, meski harga semen turun ternyata penjualan bahan bangunan tersebut relative sepi. Salah satu toko bangunan Rimba Raya di Kecamatan Babat, terlihat puluhan sak semen masih menumpuk.
Pemilik toko, Hamdi mengatakan, meski harga semen turun penjualan semen relative sepi. “Sejak kulakan tiga hari lalu pas harga semen turun, barangnya masih utuh. Belum ada yang beli,†kata Hamdi kepada suarabanyuurip.com, Rabu (21/1/2015).
Harga semen yang sebelumnya Rp61 ribu persak turun menjadi Rp58 ribu persak.
Sepinya penjualan semen dan bahan bangunan lainnya ini dikarenakan saat ini sedang musim tandur dimana para petani banyak mengeluarkan uang untuk biaya bercocok tanam.
“Biasanya memang saat musim tanam semua dagangan pada sepi. Tak terkecuali materialan bangunan,†kata Hamdi, menjelaskan.
Sepinya penjualan biasanya terjadi antara bulan Januari hingga Mei mendatang. Selepas bulan tersebut penjualan akan kembali ramai.
Pemilik toko bangunan lainnya di Kecamatan Karanggeneng, Sugeng tidak menampik sepinya penjualan. Meski pemerintah menurunkan harga semen tidak berdampak pada tingginya penjualan.
“Ndak ada dampak sekalipun dari penurunan harga semen bagi penjual sebab saat ini memang musimnya paceklik,†pungkas Sugeng.(tok)