SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro –  Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menegaskan, dari 81 dusun gelap akan ditanggulangi dengan memasang jaringan listrik hingga nanti tahun 2018. Ini sesuai RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).
Kepalan Dinas ESDM Bojonegoro, Agus Suprianto, mengatakan, baik jaringan listrik melalui PLN maupun tenaga surya masing-masing memiliki kendala yang berbeda-beda. Seperti untuk listrik, PLN memiliki persyaratan regret yakni semua dusun harus memiliki akses jalan dan jembatan yang bagus sehingga jika ada gangguan tidak ada kendala dalam menanganinya.
“Untuk tenaga surya ini juga tidak kalah rumit, karena tenaga surya ini membutuhkan aki,†tukasnya.
Dia mengaku, yang terjadi di masyarakat selama ini dengan penggunaan tenaga surya mengeluh mahalnya aki saat mengalami kerusakan yakni sekitar Rp 650.000, ada juga dengan system surya cell dimana tenga surya dikumpulkan jadi satu disuatu tempat kemudian disalurkan ke sluruh rumah.
“Untuk melakukan surya cell ini juga biayanya sangat mahal,†tandasnya.
Selain itu, pada tahun 2012 lalu, masyarakat di Kecamatan Bubulan pernah mendapatkan listrik dari tenaga surya senilai Rp 3 Miliar dari APBN. Namun, ditengah perjalanannya, aki yang digunakan dalam menjalankan jaringan listrik satu persatu hilang dicuri.
Pihaknya mengaku, saat ini tengah mengkaji system komunal seperti yang dikembangkan di Jawa Tengah yakni Solo. Sistem ini tergolong murah karena menggunakan semacam kendaraan besar dengan aki didalamnya yang digerakkan oleh generator.
“Jadi akinya bisa mengisi tenaga surya secara bolak-balik,†lanjutnya.
Dia menjelaskan, dengan system tersebut akan menghasilkan listrik sebesar 4000 watt sampai 5000 watt untuk 10 sampai 12 rumah warga. Kekuatannya dapat digunakan untuk setrika waktu siang, televise, dan penerangan.
Biayanya relatif murah, jadi kita mempertimbangkan untuk menggunakan system komunal ini bagi dusun yang sulit terjangkau listrik baik PLN maupun tenaga surya. (rien)