SUARA meraung-raung mesin penyedot pasir sepanjang bengawan Solo, siang kemarin tidak terdengar lagi seperti saat musim kemarau beberapa bulan lalu. Hanya tampak timbunan pasir yang menggunung hasil penembangan warga sekitar.
Tampak pula beberapa lokasi timbunan pasir terdapat aktifitas angkat angkur pasir sebagian tempat lain terlihat warga yang hanya duduk sembari ngobrol dengan rekannya untuk menunggu datangnya truk.
Berbeda kondisi dengan tiga bulan lalu, saat masih ramai-ramainya penambangan mekanik untuk mengangkat pasir dari sungai hingga ke permukaan. Di Desa Panolan Kecamatan Kedungtuban, menjamurnya  mesin penyedot, seakan tidak ada hentinya menguras kekayaan alam yang tersimpan di sungai terpanjang di pulau jawa itu.
Tidak heran, jika saat itu ratusan truk melintas keluar masuk dari lokasi penambangan pasir dengan mengangkut pasir hingga belasan ton. Antrian truk  yang masuk, dimanfaatkan warga sekitar untuk menambah penghasilan dengan ikut bekerja menaikkan pasir dari timbunan sampai ke dalam truk maupun ikut berdagang.
Namun, kondisi itu berubah drastis sering datangnya musim hujan sejak akhir oktober dan memasuki awal Desamber tahun 2014 lalu. Debit bengawan solo mulai naik shinggga menyulitkan penambang. Saat itu pula, truk pengangkut pasir mulai jarang terlihat di lokasi timbunan pasir yang telah menggunung.
“Tiga bulan terakhir ini kondisi mulai sepi, jarang sekali truk masuk untuk mengambil pasir,†kata Abad warga Desa Panolan.
Menurutnya, sepinya truk tersebut lantaran datangnya musim hujan sejak dua bulan terakhir dan mengakibatkan debit bengawan solo naik. Sehingga banyak dari penambang memilih untuk menghentikan aktivitasnya.
“Penambang memlih berhenti, karena airnya naik. Tapi kadang kala kalau kondisi air agal surut, mereka sesekali kembali menambang,†katanya.
Kondisi tersebut, memang berdampak pada pengurangan keuntungan bagi para pengusaha meski harga pasir saat lebih mahal dari pada sebelumnya. “Sekarang harga pasir 400 ribu per rit (bak truk), saat masih ramai dulu harganya berkisar 320 ribu sampai 330 ribu per rit,†kata Salah satu pengusaha pasir yang enggan disebutkan namanya.
Kenaikan harga pasir tersebut dipengahui karena sulitnya para penambang untuk mendapatkan pasir. “Sekarang sulit, jadi wajar kalau haganya naik dan sangat sedikit truk yang masuk,†katanya saat berada dilokasi timbunan pasir miliknya.
Efek Penambangan Pasir
Bagi sebagian orang terutama pengusaha, penambangan pasir memang menjanjikan keuntungan. Hanya bermodal mesin dan peralatan lain serta tenaga penambang, mereka bebas mengeruk kekayaan alam. Pasalnya tidak ada aturan mengikat terkait aktifitas yang mereka lakukan.
Namun dibalik keuntungan yang menjanjikan itu, para pengusaha telah merusak alam dan fasilitas umum terutama jalan raya. Akibat aktifitas itu jalan menjadi rusak parah karena dilalui truk bermuatan pasir dengan beban berlebih dan rembesan air. Bukan hanya itu, dari pantauan di lapangan, gerusan mulut sungai tampak memprihatinkan dan hampir memakan badan jalan.
Rahmad, Warga Desa Panolan, merasa terganggu dengan aktifitas penambangan yang dilakukan para pengusaha pasir. “Kami terus terang merasa khawatir dengan efek yang diakibatkan penambangan pasir, terutama masalah kelestarian alam,â€Â katanya. Dia juga mengaluhkan, jalan menjadi rusak parah akibat seringnya dilewati truk pasir yang mencapai belasan ton.
Rahmad menyangkan dengan tidak ada tindakan nyata dari pihak berwenang dan cenderung melakukan pembiaran. Sayang sekali, baik Satpol PP maupun kepolisian tidak ada tindakan sama sekali,â€katanya.Â
Seperti diketahui, bukan hanya jalan Desa Setempat yang mengalami kerusakan. Ada 6 desa lain yang terkena dampaknya akibat dilalui truk pengangkut pasir. Di Kecamatan Kedungtuban, terhitung mulai Desa Panolan, Desa Jimbung, Desa Sidorejo, Desa Wado, Desa Pulo, Desa Tanjung, Desa Bajo dan Desa Ngraho.
Baru-baru ini, diketahu telah terjadi aksi protes warga Desa Tanjung lantaran Jalan raya di Desa tersebut rusak parah dan akhirnya warga terpaksa harus menanam pisang di tengah jalan.
Dari data Satpol PP Kecamatan Kedungtuban, ada belasan mesin penyedot pasir  berada sepanjang bengawan solo yang berada di wilayah kerjanya. “Di Desa Panolan ada 11, Jimbung 7. Sebenarnya ketuwan juga ada tapi sudah tidak beroperasi lagi,†katanya.
Pihaknya mengaku telah melaporkan hal tersebut dengan Satpol PP Blora. “Untuk Sementara kami memberikan pembinaan dulu,†jelasnya saat dihubungi melalui ponselnya. (Ahmad Sampurno)