SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Puluhan siswa SMA Negeri 1 Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendatangi Kantor Kecamatan Cepu untuk melakukan simulasi Jurnalistik. Pada kesempatan itu para siswa aktif melakukan wawancara dengan para pejabat di kantor Kecamatan setempat.
Teori ilmu jurnalistik yang telah mereka peroleh pada semester satu pada ekstra kurikuler (Ekskul) diaplikasikan pada awal semester dua ini. Untuk awal semester dua ini, siswa diajak langsung untuk melakukan wawancara.
“Hanya sebatas pengumpulan data yang nanti akan dituangkan dalam bentuk tulisan,†kata Guru Ekskul SMA 1 Negeri 1 Cepu, Agustina saat mendampingi siswanya.
Dia menjelaskan, kegiatan yang dilakukan itu bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa, serta menciptakan rasa keberanian untuk melakukan wawancara dan pengumpulan data sebelum menulis berita.
Titin, sapaan akrab Agustina, mengaku, telah mengajak siswanya berkunjung ke jajaran Muspika Kecamatan Cepu lainnya seperti Koramil dan Polsek. “Untuk Kantor Kecamatan ini adalah yang terakhir di jajaran Muspika Cepu. Nanti kami akan ajak mereka melakukan penggalian data pada masyarakat umum, termasuk di pasar-pasar,†ujar dia, menjelaskan.
“Semua teori jurnalistik telah diberikan termasuk teknik wawancara dengan narasumber,†lanjut Titin.
Pihak sekolah tidak memberikan materi khusus untuk wawancara. Karena itu mereka diberi kebebasan untuk mengeksplor kemampuan dalam mencari data yang di butuhkan.Â
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Cepu, Mulyani, menganggap ilmu Jurnalistik sangat penting bagi siswa di sekolahnya. Untuk persiapan studi lanjut ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), siswa tidak cukup dibekali ilmu akademik.
“Tapi perlu bekal yang lain, terutama bekal keterampilan melalui berbagai kegiatan ekskul diantaranya jurnalistik,†sambung Mulayni.
“Jurnalistik sangat relevan untuk siswa kelak ketika mereka melakukan studi lanjut,” lanjut dia.
Camat Cepu Mei Naryono, menyambut baik kedatangan para siswa untuk melakukan simulasi Jurnalistik. Dia mengaku terkesan dengan para siswa karena telah mengaplikasikan teori yang diberikan.
“Ketok pintu, salam sapa, perkenalan, serta menjelaskan maksud dan tujuan,†katanya yang juga didampingi sekretaris kecamatan, Sholichan Muhtar.
Menurutnya, para siswa sebagian telah menguasai dan menggunakan prinsip wawancara ekslusif. “Salah satu sisi calon jurnalis sudah excellent dan Confidence. Di sisi lain, ada pewawancara yang patah-patah dan gelepotan. Itu wajar dan perlu mendapat bimbingan perbaikan,†ujar Mei, menerangkan.
Dari wawancara itu, lanjut  dia, tinggal menunggu hasil untuk diekspresikan dalam maha karya jurnalistik yang nantinya akan menjadi bahan evaluasi dari pembaca, guru pembimbing dan narasumber yang diwawancarai.(ams)