SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro - Perubahan flaring gas di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu dari 23 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) hingga 70 MMSCFD berpotensi pada peningkatan kebisingan.
Hal itu disampaikan Development Manager ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Wishnu Bahriansyah, saat pemaparan adendum analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), RKL & RPL perubahan waktu flaring Lapangan Minyak Banyuurip, di Ruang Angling Dharma Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, beberapa waktu lalu.Â
Wishnu mengatakan, sifat penting dampak terhadap peningkatan kebisingan ditinjau melalui tujuh kriteria dampak. Dampak ini berpotensi terhadap sebagian penduduk yang bermukim di Dusun Samben dan Dusun Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, saat beroperasinya flaring.
“Potensi peningkatan kebisingan yang terjadi di sekitar lokasi CPF akan tersebar pada radius satu sampai tiga kilometer dari flare stack,” ungkapnya.
Namun, lanjut Wishnu, yang terpapar hingga melebihi baku mutu yaitu pada flaring 23 MMSCFD. Ini hanya menimbulkan dampak di dalam radius 975 meter, dengan tingkat kebisingan lebih dari 58 dBA.
“Sementara pada flaring 70 MMSCDF hanya menimbulkan dampak di dalam radius 1.158 meter dengan tingkat kebisingan lebih dari 58 dBA,” imbuhnya.
Dia menyatakan, lama dampak kebisingan tersebut akan berlangsung selama masa commissioning. Yakni enam sampai 18 bulan yang bersifat sementara. Oleh karena itu potensi dampak tidak berlangsung secara kontinyu.
“Sementara peningkatan kebisingan berpotensi melebihi baku tingkat kebisingan terutama di Dusun Samben, dan Ledok untuk skenario flaring 23 dan 70 MMSCFD,” ujarnya.
Pria berkulit putih ini memaparkan, komponen lingkungan lain yang berpotensi akan terkena dampak adalah kesehatan masyarakat. Namun demikian oleh karena dampak berlangsung dalam waktu singkat namun non stop 24 jam, maka diperkirakan menyebabkan gangguan kesehatan.
“Potensi peningkatan kebisingan adalah dampak yang tidak bersifat kumulatif di atmosfer, oleh karena itu kebisingan kaan segera hilang ketika mesin dimatikan,” sergahnya.
Sementara itu, Sekretaris Kabupaten Bojonegoro, Soehadi Moelyono, mengatakan, EMCL harus mengutamakan keselamatan dan kenyamanan masyarakat sekitar dengan memperhatikan kemungkinan resiko yang terjadi.
“Salah satunya dengan membuat warning system yang nantinya bisa menjadi acuan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi perubahan suhu atau terjadi resiko bencana lain,”pungkasnya. (rien)