SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah Desa Sedahkidul, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengkhawatirkan dampak dari kegiatan flaring di lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam pada kapasitas 23 sampai 70 MMSCFD.
“Kami butuh kepastian dari EMCL, apakah ada tim survei AMDAL terkait dampak flaring yang datang ke desa kami,†ujar Kepala Desa Sedahkidul, M Choirul Huda, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (4/2/2015).
Huda menegaskan, warga di desanya ada yang berbatasan langsung dengan Dusun Samben, dan Dusun Ledok, Desa Mojodelik yang terdampak kegiatan tersebut. Meskipun hanya terpisah oleh aliran sungai namun bukan hal yang mustahil apabila dampak peningkatan suhu, intensitas cahaya, penurunan suhu udara, dan lainnya berdampak pula pada masyarakat di Sedahkidul.
“Kalau memang flaring akan menimbulkan dampak, saya butuh informasi dan kejelasan dari EMCL, agar kami selaku pemdes bisa mengantisipasinya terlebih dahulu,†tandas bapak satu anak ini.
Pihaknya berharap, tim Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) melakukan survei ulang, dan melihat potensi dampak pada masyarakat di Desa Sedahkidul. Desa ini berbatasan dengan kedua dusun terdampak yakni Desa Samben, dan Ledok seperti pemaparan dengan Pemkab beberapa waktu lalu.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Vice President ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto, belum memberikan konfirmasinya mengenai hal tersebut. (rien)